Thamrin – Sudirman
December 17, 2007
Ini episode terakir dari hasil plesiran tempo doeloe yang temanya Arsitektur Kebangsaan. Ceritanya hari sabtu itu kita melintasi jalan utama Jakarta sekaligus foto – foto di bunderan HI dan patung Pemuda dan pastinya sambil dengerin ulasannya mas Yuda. Berhubung udah agak lama jalan – jalannya dan males liat catetan tapi terlanjur sakblog, jadi tulisannya bakal ngga berurutan neh.
Pas kita ngelewatin gedung Sarinah yang namanya diambil dari nama pengasuh Bung Karno, kita dapet cerita bahwa di tahun 1968 pada saat gedung itu diresmikan, banyak orang yang rebutan naik lift.
Di jalan Thamrin ini ada Tugu Selamat Datang yang menghadap ke utara, patung ini sengaja dibuat untuk menyambut para turis yang datang dari arah bandara Kemayoran dan pelabuhan Tanjung Priok. Kalau sekarang, patung hape Samsung SGH 500 (?) yang menyambut pendatang dari arah bandara Soekarno – Hatta hehehe.
Pas kita di bunderan HI ini, kita barengan sama orang – orang yang sedang orasi hari AIDS dan ada mba Lativi yang cantik yang sedang menginterview orang. Btw, lativi kayaknya bakal ganti nama menjadi tv one ya? Aih, ga penting. Eh sekedar info (yang belum tentu benar), kalo nyebrang di Thamrin sebaiknya bawa gerobak. Soalnya hanya orang yang membawa gerobak yang bole nyebrang, selebihnya harus lewat jembatan penyeberangan.
Yak lanjut ke jalan Sudirman, jalanan ini tadinya adalah semacam jalan arteri yang menghubungkan pusat kota ke kota satelit Kebayoran. Yup, kota satelit Kebayoran! Dulu pada jaman Belanda (lagi – lagi kalo ngga salah lho) Kebayoran memang dirancang sebagai kota satelit untuk menampung 65.000 – 100.000 jiwa lengkap dengan sarana sekolahan dan makam. Ini yang hebat. Developer sekarang cuma bikin kota dengan rumah – rumah tanpa areal pemakaman. Kebayoran ini sengaja dipilih karena lokasinya yang paling ideal dari segi geografis, pantesan Kemang banjir mulu ya? Wong memang daerah rendah. Nah, gedung CSW yang kita kenal sekarang itu tadinya kantornya pengelola pengembangan Kota Satelit Kebayoran.
Di ruas Thamrin – Sudirman ini ada jembatan Semanggi yang jadi titik pertemuan antara ruas jalan ini dan ruas outer ring road Gatot Subroto – S. Parman. Pematung patung Dirgantara atau patung Pancoran di ruas Gatot Subroto – S. Parman itu sampai sekarang belum dibayar lho. Astaghfirullah, kasian bener bapak itu.
Kembali ke jalan Sudirman, di ujung jalan ini ada patung pengantar pizza eh patung Pemuda yang, konon katanya, mukanya mirip Ibnu Sutowo karena dulu Pertamina adalah penyumbang dalam proyek pembuatan patung itu.
Sebetulnya banyak banget cerita seru dari mas Yuda yang out of topic pada saat jalan – jalan ini tapi daripada menimbulkan pro dan kontra mending ngga semua gue ceritain
Ada juga pertanyaan mas Yuda yang cukup menarik, kenapa nama Sukarno dan Hatta ngga pernah dipakai secara terpisah? Entah itu sebagai nama jalan atau nama gedung. Ada yang punya jawabannya?
Dan di era moderen inipun kita sudah punya tugu yang fenomenal secara jumlah dan juga secara cerita yang melatar belakangi pembuatannya, yaitu, monumen monorel.
Tugu Nasional
December 3, 2007
Saking banyaknya info yang gue terima hari itu, terpaksa tulisannya gue bagi jadi beberapa episode. Episode ini soal Tugu Nasional. Foto – foto (yang sedikit itu) ada disini tapi karena digital camera gue rusak mendadak, jadi terpaksa pakai kamera hand phone. Hasilnya ya gitu lah.
Ada cerita menarik soal pembangunan tugu ini. Dulu pembangunannya berbarengan dengan masjid Istiqlal tapi prioritas Bung Karno adalah Tugu Nasional. Waktu itu ada yang menanyakan soal itu dan dijawab oleh Bung Karno seandainya dia sudah tidak jadi Presiden, pasti akan ada yang melanjutkan pembangunan masjid tapi kalau tugu yang terlantar, belum tentu penerus Bung Karno akan melanjutkan proyeknya. Masuk akal juga dan terbukti sampai saat ini kita ngga pernah (mampu) membuat proyek – proyek seperti itu.
Mungkin ada yang bilang gak penting. Tapi coba liat deh, Amerika punya Liberty, Perancis punya Eiffel dan yang terbaru di sebelah kita adalah Malaysia dengan menara kembarnya. Gedung – gedung itu bukan hanya jadi simbol kebanggaan tapi juga ikon wisata yang menarik bagi turis asing. Lha kita merawat yang ada aja susah, sekalinya merawat malah salah kaprah. Kalau menurut mas Yuda, dari sisi arsitektur atau landscape *atau moral ya mas?*, penempatan bunga bangkai palsu disekeliling Tugu Nasional itu sangat tidak cocok. Itu lebih cocok untuk taman Suropati atau taman Menteng, pokoknya taman yang bisa buat foto bareng teletubbies lah. Gue setuju, karena menurut gue bunga buatan gak seharusnya ada di tempat yang melambangkan sejarah perjuangan. Menurut cerita, taman bunga bangkai ini sumbangan PT. Gudang Garam dengan biaya puluhan milyar dan bakal terlihat indah kalau dilihat dari atas.
Haiyah, apa target turis kita itu sebangsa Superman?
Stadion Utama Gelora Bung Karno
December 3, 2007
Buat gue serunya ikutan plesiran tempo doeloe-nya Sahabat Museum selain bisa masuk ke dalam area stadion, gue juga jadi lebih paham sejarah Jakarta seputar tahun 1962. Ini gara – gara gue jadi niat browsing ke link ini dan ini. Foto selengkapnya di sini.


