Suku, agama, bahasa dan perbedaan semu lainnya.

Rupanya minggu ini jadi minggu serius buat gue. Segala macam kejadian gue tanggepin secara serius. Termasuk pada saat browsing, gue lebih sering ketemu dengan topik serius dibanding yang ringan – ringan. Sialnya, gue terdorong untuk menanggapi. Ampun! Makin hari, kebiasaan blogging ini jadi seperti sakaw (walaupun sebetulnya gue belum pernah sakaw, sok tau ya gue) mungkin namanya sakblog.

Hari ini, topik yang gue baca itu cenderung jenis berita yang terkotak – kotak. Ini istilah gue sendiri karena gue ngga tau istilah yang betul tuh apa. Berita yang terkotak – kotak itu menurut gue adalah berita tentang perlakuan tidak adil oleh satu pihak terhadap pihak lain dalam berbagai kemasan. Ada yang dalam kemasan agama, sosial, ekonomi bahkan budaya. Lebih parah lagi, ada beberapa berita yang ditulis secara sepihak.

Seperti biasa, berita – berita itu mendapat berbagai tanggapan dari pembacanya. Sebetulnya masih perlu ngga sih kita dapat berita seperti itu? Gue bukannya ingin menyederhanakan hidup, hanya saja, kita diberi kemampuan untuk berpikir dan bertindak rasional oleh pencipta kita bukan tanpa suatu alasan. Ok lah, mungkin memang ada orang yang sejak kecil sudah dengan sengaja didoktrin untuk berbuat dan berpikir tentang hal – hal yang negatif tapi gue yakin jumlahnya sangat sedikit. Sedangkan bagi kita yang dengan tidak sengaja terdoktrin, harusnya mampu untuk membuat perubahan dalam diri dan belajar membuka diri untuk keluar dari kotak – kotak semu itu tanpa harus menghilangkan ciri kita masing – masing.

Memang betul bahwa agama dan suku itu adalah hal yang pasti tapi tak nanti kita jadi terkelompokan menurut agama dan sukunya masing – masing, itu yang gue maksud dengan semu (kadang kalau lagi disuruh mimpin doa, gue pengen bilang “Mari kita berdoa menurut ide masing – masing” boleh gak siy?).

Nah dengan membuka diri, harusnya kita bisa menghilangkan ego dan bisa meredam sekaligus menyelesaikan masalah dengan baik. Kayaknya kita ngga perlu menanggapi suatu masalah yang sensitif dengan cara yang bombastis. Apalagi kalo sudah soal agama, rasanya orang yang paling malas beribadahpun bisa jadi fanatik dalam waktu sekejap.

Ini ada contoh pengkotakan masalah. Suatu hari gue ngobrol di Plaza Senayan dengan beberapa orang tentara, bahasannya (sudah pasti) seputar TNI. Waktu itu Panglima TNI baru saja dijabat oleh orang yang bukan dari TNI AD dan salah satu pak tentara ini bilang bahwa ngga pantes jabatan Panglima TNI dijabat oleh seorang yang bukan dari angkatan darat karena, menurut dia, angkatan darat itu memiliki jumlah personil terbesar yang berarti AD adalah kaum mayoritas. Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya kita sepakat bahwa seorang pemimpin itu tidak harus datang dari golongan mayoritas tapi haruslah seorang yang memiliki visi, kemampuan dan pengalaman yang baik, apapun golongannya. Hari itu gue senang, senang karena ngga digebukin gara – gara berbeda pendapat sama seorang tentara (nha! ini juga contoh pikiran yang terkotak – kotak. Ngga semua tentara itu tukang gebuk!)

Mungkin kita harusnya merayakan hari Sumpah Pemuda setiap minggu kali ya? Supaya kita bisa ingat terus dengan janji persatuan itu, supaya kita ngga ngeributin tentang pemimpin daerah yang harus asli putra daerah, supaya kita ngga mengharuskan bahwa ketua partai harus jadi calon presiden tunggal dari partai itu, supaya kita ngga kehilangan pulau lagi, supaya kita ngga saling serobot jalur di jalan raya dan pastinya supaya kita bisa semakin maju dan semakin bangga dengan ke-Indonesiaan kita.

Ngga, gue ngga bermaksud menggurui. Kalaupun terkesan seperti itu, itu cuma karena gue ngga pinter bertutur. Tulisan ini murni karena rasa sakblog itu tadi *huh*

Advertisements

4 thoughts on “Suku, agama, bahasa dan perbedaan semu lainnya.

  1. ini toh, blog yang bikin sedih karena terlalu serius!!!hiks…hiks…

    emang beda ya, hasil pendidikan di luar negeri ma dalam negeri…(opo hubungane jal!?!??!:P) demokratis realisnya kethok banget!!(haiyyah!!!opo maneh jal!!?!)

    mending kotak kota deh mas…lebih keren!!ketimbang polkadot!!!hehehe…

  2. karna elu serius, gw komen aga serius deh. Biar PW, itu posisi seri heheheehe ngasal ya?

    pertama, soal penulisan blog, yang mana mereka menuangkan apa yang ada diisi diOTAknya. Secarakan klo ngomong ngaco ntar ditangkep. Naah klo ngomong ngaco diblog, paling2 cuman naggepin komen doang. Yang empu ga punya, deleted aja.
    Letakkan posisi blog sesuai posisinya yaitu E-diary.

    Kedua, soal mimpin doa, hehehe bukan ide masing masing lageee tapi lebih keren ginih ” Mari kita berdoa menurut harapan & hayalan masing masing” naaah itu boleh huahahaha

    ketiga, gw jadi inget kata kata ginih ” serahkan pada yang ahlinya, bila tidak datanglah kehancurannya”
    tapi kok penguasa DKI, ngaku “ahli”nya ga kelar kelar pengikisan mendekati kehancuran heheheh *sigh*

    napa elo yang sakaw blog, gw yang mabok ya?? bused komengw ini bisa masuk MURI. Komen terpanjang dan terdodol huehehehehe

  3. @Cil: polkadot itu yang didominasi warna coklat ya? Eh bukan ya, itu mah poltabes 😛

    @dahlia: kalo mau nitip blog di blog gue, ada rate card-nya lho. Rp. 500 per huruf hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s