Ngecuprus soal UU Lalu Lintas

Ini dia UU yang sedang sering dibahas sama pengguna jalan. Terutama oleh para penggemar bekibolang -belok kiri boleh langsung-.

traffic signDulu, di semua persimpangan jalan yang ada lampu lalu lintas, kita boleh belok kiri walaupun lampu sedang menyala merah. Kecuali kalau lampu tersebut berbentuk tanda panah, maka kita wajib mengikuti maunya si lampu. Kalau merah berhenti, kalau hijau jalan.

Sekarang, kita sama sekali tidak boleh belok kiri walaupun lampu panah itu gak ada. Sekarang kita harus mengikuti lampu merah-kuning-hijau yang normal itu. Kalau dia lagi merah, ya jangan coba-coba belok kiri. Karena sekarang, Polantas bisa kasih surat tilang.

marijuana-traffic-lightPeraturan baru ini yang bikin para penggemar bekibolang itu harus menghilangkan kebiasaan lamanya, soalnya sekarang sudah diatur dalam UU No. 22/2009 Pasal 112 Ayat 3. Bunyinya gini nih:

Pasal 112:

(3) Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas.

Nah inget-inget ya, pokoknya sekarang kalau mau belok kiri kudu ikut berhenti kalau lampu menyala merah. Kecuali kalau ada rambu yang bilang Belok Kiri Langsung, ya belok aja. Kalau ada buaya petugas yang nakal, ngotot aja. Karena di UU-nya tertulis tetap boleh langsung belok kalau ada rambu yang mengatur.

Kalau mau download/unduh UU No. 22 Tahun 2009, tanya paman Gugel aja. Ketik aja UU No.22/2009, pasti nanti dikasih tau di mana bisa ngunduh.

Dari hasil ngunduh itu, ada beberapa pasal yang sempat saya baca. Misalnya, pasal 281, di pasal ini dibilang, kalau gak punya SIM bisa kena denda maksimal 1 juta rupiah. Tapi, di pasal 288 ayat 3, denda yang berlaku untuk orang yang punya SIM tapi gak bisa nunjukin SIM-nya adalah, maksimal 250 ribu rupiah. Jadi kalau ada razia dan Anda gak bawa SIM, bilang aja ketinggalan, supaya hanya kena pasal 288. Tapi kalau razianya di Bogor, sementara SIM Anda adanya di Jakarta, dan Anda disuruh ambil SIM Anda, ya itu namanya musibah :D. Kalau saya, saya ini adalah penderita suspek pasal 281. Karena sudah 9 tahun ndak punya SIM A, dan hampir 1 tahun tanpa SIM C *tersipu*.

Sebetulnya ada 1 pasal yang saya cari. Yaitu, pasal yang melarang penggunaan telepon genggam saat mengemudi mobil atau mengendarai motor. Pasal ini saya cari karena saya suka jengkel sama orang yang asyik teleponan saat nyetir. Apalagi kalau yang sedang telpon sambil nyetir itu cewek cantik berhidung mancung, saya bisa makin jengkel. Saya jengkel karena dia telpon-telponannya gak sama saya..(halah).

No, seriously, mereka yang menggunakan telpon sembari nyetir ini cenderung bikin susah pengguna jalan lain, dan juga, berpotensi tinggi menyebabkan kecelakaan karena hilang konsentrasi mengemudi. Tapi ternyata, atau mungkin saya belum nemu, tidak ada pasal yang secara khusus ngebahas soal itu. Saya cuma nemu pasal 106 ayat 1 yang bilang:

(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Jadi, kalau pasal ini kita terjemahkan dengan ngawur, kita boleh mengemudi sambil telpon-telponan dan bahkan nonton tv asalkan kita bisa konsentrasi. Duh! Kenapa sih gak secara spesifik disebut pelarangan penggunaan alat ini dan alat itu pada saat mengemudi? Supaya jelas gitu lho. Jelas untuk kita -pengguna jalan-, dan jelas juga untuk polisi lalu lintas.

Kenapa harus jelas untuk polisi? Ya karena mereka itu bukan yang menetapkan UU ini. Yang menetapkan UU, kalau menurut dokumen yang saya unduh, adalah DPR dan Presiden Republik Indonesia.

Jadi, POLRI hanya petugas pelaksana, yang bisa juga berbuat salah dalam melaksanakannya 😀

Advertisements

9 thoughts on “Ngecuprus soal UU Lalu Lintas

  1. Gendud! Sejak kapan sih lo jadi sarjana hukum ngebahas pasal2 kaya ginih? Gw sempet ragu ini sebenernya blog elu apa blognya Komdak?

    Kaya gw donk …. HUMANIS …. hukum tapi maniss …

    ragil:
    widiiiwh..sarjana hukuuum..ehm
    😉

  2. hahaha….maka mbesok2 kamu mencalonkan diri gitu loh jadi anggota DPR.

    di sini, by right harusnya gak boleh lah mengemudi sambil menelepon tapi by left, banyak yg melakukan 😀
    biasanya, supir taksi, agen properti ato agen asuransi, tp mereka pake kabel speaker itu lho…jadi tangannya gak ribet …walau konsentrasi mah pasti terpecah yak!

    ohya…saya bukan supir taksi lho (bukan juga agen properti dan agen asuransi ) @_@

  3. lho, udah diberlakukan to kang? tak pikir masih digodok. padahal tiap hari aku mangsih nerobos dan aman-aman saja tuh. polisinya mangsih kaya ketoke. 😛

  4. tapi masih ga jelas juga aturannya. waktu itu saya berenti pas mau belok kiri. sama polisinya malah disuruh jalan..

    salam kenal yah! :mrgreen:

  5. tapi masih tetep banyak yang melanggar aturan kan ya ya ya ya? hehehe… di Ende sini masih kayak dulu, belok kiri hajar aja meski masih lampu merah 🙂

  6. polisi kebanyakan ngatur warga yg berkendara.tanpa di sadari bangsa kita MISKIN gara-gara KORUPTOR merajalela di Indonesia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s