Indonesia! Bukan Indonesu!

Awas, artikelnya bakal panjang. Sila pindah blog lain kalau males baca yang panjang, tapi kalau tetap baca, sila baca sampai habis dan tinggalkan komentar yang bisa memotivasi. Makasiiih 😉

Nesu, adalah bahasa Jawa yang berarti marah. Iya, saya marah. Gak tau marah dengan siapa.

Saya (baru) marah karena terpancing video gak senonoh yang melibatkan beberapa orang yang “mirip” artis itu. Saya marah, karena topik itu memuncak di twitter. Saya marah, karena lagi-lagi yang terangkat dari Indonesia adalah hal yang negatif. Mereka sadar gak sih, kalau kelakuan para “mirip” pesohor itu mau gak mau akan membawa nama bangsanya?

Saya marah, karena sudah lama memendam rasa kecewa.

Dulu, waktu saya kecil, saya terdoktrin dengan kata-kata “Indonesia adalah negara yang berbudaya, rakyatnya ramah dan memiliki adat ketimuran yang luhur”.

Lalu, ketika saya kuliah di Australia, tepatnya Canberra dan Melbourne, saya justru lebih banyak belajar tentang budaya yang lebih baik. Semua teratur dan rapi. Mengurus apapun mudah. Saya bukan tipe yang luar-negeri-minded, sama sekali bukan. Tapi secara jujur, kesan ramah dan tertib itu justru saya dapat dari orang-orang bule itu.

Kita seharusnya bisa. Kalau kita mau sadar bahwa apapun yang kita lakukan akan punya dampak bagi orang lain, pasti kita akan menjaga kelakuan kita.

Jujur aja, saya marah setiap kali orang Indonesia sendiri mencela pemerintahnya, mencela wakil rakyatnya dan mencela aparat-aparat penegak hukumnya. Tapi nyatanya, hanya sedikit dari mereka yang non-cela-able.

Jujur aja, saya marah karena tidak ada yang bisa dibanggakan dari tanah kelahiran saya ini.

Saya mau membanggakan wilayah laut Indonesia yang luas, tapi nyatanya, kita gak bisa mempertahankan pulau yang ada di wilayah perairan kita.

Saya mau bilang bangga dengan kreatifitas anak bangsa, nyatanya kita kalah dengan serbuan Upin Ipin, Ben 10, Naruto dan terlebih lagi film-film Hollywood.

Saya mau bicara keindahan alam, nyatanya hampir semua obyek wisata yang terkenal, sudah tercemar sampah.

Terlebih kalau saya mau membanggakan keramahan sesama warga Indonesia, bahkan di depan pintu lift-pun orang sering berebut hendak masuk terlebih dulu, padahal yang di dalam belum semua keluar. Apalagi di jalanan, terutama jalanan ibukota, makin galak.

Kalau saya mau bilang bahwa rakyat Indonesia ini beradab, nyatanya masih banyak, terutama cowok, yang gak tau cara memakai  toilet duduk dengan benar. Padahal gampang, kalau mau pipis, angkat semua penutup toilet supaya air kencingnya gak blecetan di alas duduknya. Ini masalah budaya kebersihan dan kesehatan, harusnya menjadi penting.

Lalu apa saya menjadi pesimis? Tidak. Untungnya ada kawan saya yang mengingatkan bahwa, negara-negara yang sekarang terlihat maju itu, dulunya juga berantakan. Jadi, percayalah kalau suatu saat nanti Indonesia akan menjadi baik juga.

Semuanya harus diawali dari kita. Pakai saja moral dan juga logika, gak perlu harus paham UU untuk menjadi warga yang baik.

Kalau sekarang kita nesu dan kecewa, itu sebetulnya tanda yang baik. Karena kita akan berusaha berbuat dan menjadi baik karena rasa kecewa itu. Yang bahaya adalah, kalau kita sudah apatis. Itu yang gak boleh. Begitu kata kawan saya.

Jadi, kalau saya marah, itu wajar karena saya merasa belum bisa berbuat baik untuk lingkungan saya. Bahkan di dalam keluarga pun, saya masih sering kena complain 😀

Nah, mari kita mulai memperbaiki diri kita masing-masing. Ingat aja, apa yang kita lakukan akan berdampak terhadap orang lain. Semakin tinggi posisi Anda, semakin besar dan luas dampaknya.

Saya yakin masih banyak warga negara ini yang baik dan terpelajar. Saya yakin negara ini suatu saat bisa dibanggakan. Saya yakin suatu saat, ketika orang menyebut nama INDONESIA, yang tergambar adalah sebuah negara yang beragam penduduknya tapi seragam sifat budi luhurnya. Indonesia! Bukan Indonesu. Amin.

Advertisements

6 thoughts on “Indonesia! Bukan Indonesu!

  1. Waktu gw baca buku : ‘saya terbakar amarah sendiri’ yang berupa kutipan wawancara alm. Pramodeya Ananta Toer dengan 2 journali,
    gw sudah merasakan hal yang sama.
    *suer, gw bukan mengidolakan elo niy*
    Gw tulis hal itu di blog, backpacker kondang, mbak ambar yang sudah mlaku2x keliling dunia menasehati gw.
    ‘Baca aja deh review buku itu di MP gw :p*

    The video part:orang2x kantor gw masih napsu banget nyari kelanjutan ceritanya.
    bukannya sok suci siy,mau download dan menikmati sendiri, gih dah itu hak mereka!
    Tapi kemudian mendiskusikan dan sepertinya tahu latar belakang semua itu, lama2x bikin gw gerah juga

    How to cope w/ it?
    Setidaknya kita yg berubah lah.setidaknya gw tidak ikut nyebar link video mesum itu,setidaknya gw bawa tas belanja sendiri,
    Setidaknya gw tetap ngantri nunggu lift, setidaknya gw ngasih tempat duduk gw ke ibu hamil yg gw temui di KRL/bus,
    Ato setidaknya, kalo gw ngga duduk gw akan menyarankan pria yang duduk to give his seat to a needy.
    Habis, gimana lagi?

  2. baru kemarin gw nemu berita si borokokok dan wanita2nya di koran Turki, India dan Pakistan!!!! aduh, ampun deh malunya. yg begituan itu nyampe ke sonoh.
    sementara waktu di bank senin kemarin, teller nya jg nanya, kamu tuh dari Indonesia yg tempo hari ada video anak 2thn ngerokok itu, ya? Indonesianya sama kan? blaaaah.
    atau lain waktu ada yg nanya, Indonesia yg kena tsunami itu ya? ayo ajak temen2mu pindah ke sini aja…
    aaaarrrggghhhh!!! kapan kedengeran bagusnya negara gw???
    *bagusnya, elo langsung ngeblog, gil, sementara aq nggrundel wae

  3. untung udah mau paila dunia ya gil .. jd orang pasti udah mulai ninggalin vidio2 ga penting itu .. trus jadi pada buka taruhan deh … hehehe..

  4. dulu sekali, awal2 saya kuliah seorang dosen native speaker dari amerika dan australia pernah menanyakan pada kami “apa yang akan kamu bawa ketika kamu diberi kesempatan berada di negeri saya”
    bukan pertanyaan yang mudah di jawab saat itu dan semakin sulit di jawab sekarang 😦
    tapi ini Indonesiaku sebuah negeri bodoh yang kucintai dan akan selalu kubela 🙂

  5. kebetulan bbrp waktu terakhir, hampir tiap bulan gw harus pergi ke luar sbg duta perusahaan dan duta negara. Apa yang gw bawa? BATIK. Cuma itu yang bisa gw banggain setidaknya untuk saat ini.

    Di negara orang gw menempatkan diri sbg pendatang yang baik, ramah dan disiplin. Sebisa mungkin menjadi org seperti gambaran dalam buku PMP waktu gw SD dulu deh (meski gw sadar gak akan bisa ideal). Biar orang2 liat orang indonesia bisa juga kok disiplin. Mau berita yang mrk baca kaya apa, tp contoh yang ada didepan mata gak seperti itu. Udah cukup untuk gw membuktikan tidak smua bangsa Indonesia sperti yang mrk baca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s