Tentang Ayah

Waktu Hari Ayah, saya sengaja tidak tweeting #tentangayah di Twitter. Rasanya lebih enak ngeblog karena lebih terdokumentasi. Saya beruntung karena sampai saat ini masih bisa didampingi ayah dan ibu, tapi jujurly, cuma sedikit yang bisa saya ingat tentang ayah saya.

Kami sekeluarga memanggil beliau dengan sebutan, bapak. Bukan papa, bukan ayah, tapi bapak. Kenapa? Ya mana saya tau, sejak lahir saya terima jadi aja 😀

Kebetulan saya anak bungsu, jadi waktu saya lahir, bapak sudah mulai memasuki masa meniti karir yang cukup enak. Waktu itu beliau sudah menjadi perwira menengah, jadi sudah mulai banyak tanggung jawabnya sebagai perwira angkatan darat. Selain mulai bisa merasakan hidup yang lebih nyaman, kami juga harus rela berbagi perhatian dengan institusi itu. Apalagi beliau termasuk orang yang punya prestasi, bahkan sejak masih menjadi taruna.

Saya sering tuh ngalamin ambil rapor sendiri tanpa orangtua. Kadang kakak saya yang ambil, kadang ajudan bapak yang ambil tapi sering juga Ibu. Bahkan pernah di hari ulang tahun, saya tinggal sendirian di rumah. Gak ada peringatan ultah, gak ada apa-apa. Lha wong gak ditinggalin duit buat traktir teman, apalagi pacar. Padahal waktu itu pacar saya banyak *eh*.

Waktu itu bapak dan ibu pergi kunjungan ke suatu daerah. Kakak-kakak saya, entah di dunia mana mereka saat itu dan saya gak diajak, nasib anak bungsu. Ya sudah, saya nonton tv aja sama penjaga yang kebetulan piket hari itu.

Ibu saya, ya namanya juga istri tentara, selalu terseret ke dalam kesibukan organisasi. Zaman masih ABRI dulu, istri tentara agak susah kalau tidak terlibat dalam organisasi. Sekarang lebih enak, ada kawan saya yang anggota TNI, istrinya bisa punya karir di sektor swasta. Dulu, boro-boro deh.

Tapi walaupun saya jarang ketemu bapak, bukan berarti rasa hormat saya berkurang. Justru banyak yang saya ambil dari beliau.

Dengan caranya yang khas, saya banyak belajar tentang arti rendah hati, disiplin, tegas yang tak berarti keras, lembut yang bukan berarti lemah dan juga kemampuan beradaptasi.

Tentu yang saya serap dari beliau, belum bisa saya terapkan secara penuh. Masih banyak yang harus saya pelajari, tapi paling tidak, saya sudah punya dasarnya.

Sebagai anak tentara dan juga anak bungsu, saya selalu dibawa ke mana saja bapak ditugaskan. Saya beruntung sudah bisa menjejakkan kaki di semua pulau besar Indonesia. Saya sudah pernah masuk ke pedalaman Papua, yang dulu disebut Irian, karena ikut bapak yang melakukan peninjauan ke batalyon dan satuan-satuan kecil pasukan angkatan darat yang tersebar di pulau itu.

Walau begitu, ada juga dampak buruknya. Saya harus pindah 8 kota di 2 negara selama SD. Masa SMP harus saya lewati di 2 kota, masuk di Surabaya, lulus di Semarang. Seru deh pokoknya! 😀

Sewaktu SMA, zaman saya lagi badung-badungnya mencari perhatian, saya sempat mogok sekolah dan minta masuk ke pesantren. Maksudnya sih dalam rangka protes karena terlalu sering pindah kota, tapi ya namanya juga anak SMA, protesnya lebay :mrgreen:

Ibu saya jelas panik. Bapak? Tenang aja tuh. Bapak memang cenderung membiarkan kami berbuat apapun, selama dalam batas wajar, supaya kami bisa belajar menerima konsekuensinya.

Saya benar-benar dicarikan pesantren, yang netral tentunya. Netral dalam arti tidak dekat dengan NU, Muhammadiyah dan lain-lain. Bukan apa-apa, kata bapak, biar orang gak terlalu menilai macam-macam. Karena dengan posisi bapak saat itu, kelompok tertentu bisa menafsirkan macam-macam kalau Bapak disangka berpihak.

Akhirnya, setelah merasakan pendidikan pesantren selama 1,5 tahun, saya sendiri yang memutuskan untuk kembali ke SMA. Bukan karena gak betah, karena nyatanya, pesantren Pabelan di Magelang itu nyaman sekali. Semasa kepemimpinan Kyai Hamam, Pabelan belum menjadi pesantren moderen. Tapi seenak-enaknya pesantren, tetep bukan gue banget gitu loh 😀

Pemilihan pondok pesantren ini bisa dibilang mewakili sifat bapak. Walaupun terkesan cuek, tapi beliau selalu berhitung. Itu yang belum mampu saya serap, saya sih cenderung impulsif kalau bertindak.

Saking berhati-hatinya beliau, semasa masih aktif bertugas dulu, beliau tidak mau menggunakan jabatannya untuk bertindak sembarangan. Bahkan, dengan caranya, Bapak termasuk sering melawan “arahan” atasan apabila dirasa bertentangan dengan kepatutan dan kepentingan masyarakat. Makanya, walaupun pernah menjadi pejabat tertinggi di beberapa wilayah Kodam, bapak tidak pernah mencapai posisi puncak di lingkungan ABRI. Mungkin karena “badung” itu.

Tapi saya mendukung sifat bapak yang ini, karena walaupun sekarang beliau hidup dalam kesederhanaan sebagai pensiunan, tapi beliau hidup tenang. Saya tau bapak gak akan bisa mewarisi harta yang berlimpah, tapi saya yakin, bapak akan mewarisi sesuatu yang jauh lebih berharga dari harta bagi kami.

Bahkan saya berharap bisa meneruskan cara didik beliau kepada anakku. Supaya nanti, anakku bisa mengucap “Saya bangga punya ayah seperti bapak”. Sama seperti ucapan saya untuk ayah saya.

Aamiin

Advertisements

10 thoughts on “Tentang Ayah

  1. elu kok ikut2an gw sih Gil? gw juga posting tentang bokap … trus elu juga di psantren .. eh kalo itu elu duluan ya … scara elu jauh lebih tua dari gw …. 😀

    Nice posting, Gan! *Ganjen, Ganjelan pintu, Gandud, dsb*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s