Liburan Musim Dingin: Surfers Paradise.

Masih gak mood nulis sebetulnya, tapi harus dipaksa. Gak boleh kalah sama mood, kecuali Moody Kusnaedi *halah*.

Oh iya, sebelumnya saya mau sedikit cerita tentang perjalanan Jakarta – Sydney. Sebelum berangkat, saya sudah niat mau bawa buku untuk dibaca selama perjalanan 6 jam di pesawat. Saya sudah membayangkan nikmatnya membaca buku sampai ngantuk, kemudian tidur, dan bangun sesaat menjelang landing.

Masalahnya, pesawat Qantas berjudul Airbus yang saya tumpangi ini, ternyata dilengkapi dengan flight entertainment yang cihui :D. Anda mau main game, nonton film sampai serial tv pun ada. Alhasil, buku yang saya selipkan di kantong bagian dalam jaket itu, merana selama 6 jam. Gak saya sentuh, sama sekali :mrgreen:

Selama saya di Sydney, boro-boro saya baca buku itu. Inget sama dia aja enggak. Sebetulnya ada harapan untuk si buku itu keluar dari jaket saat saya terbang menuju Brisbane. Sayangnya, harapan itu punah karena saya sibuk melayani pertanyaan juragan tembem yang pagi itu on fire. Iya, anakku semangat sekali bertanya ini dan itu.

Bahkan sebelum check-in pun dia sudah sibuk bertanya tentang mesin check-in di bandara Sydney. Rupanya sekarang ini Australia sudah memakai mesin, yang mirip ATM hanya gak nempel di tembok, untuk check-in. Jadi, setelah Anda check-in di mesin ini, Anda tinggal menuju antrian untuk luggage check.

Nah setelah itu dia bertanya lagi tentang ketatnya security check di bandara. Mulai dari, kenapa laptop harus dikeluarkan dari tas, dan kenapa ada random check untuk explosive material. Random check ini memang unik, kebetulan saya sendiri diperiksa saat di Sydney. Dan saya perhatikan, selama di 4 kota yang saya singgahi, ada air crew, ibu tua di kursi roda, pria setengah baya berjas lengkap dan bahkan ibu hamil, semua kena. Betul-betul random, dan tanpa senyum. Tapi bukan berarti galak ya, kesannya tegas. Gak kayak petugas di Soeta yang kadang cengengesan gak jelas gitu.

Setelah mendarat di Brisbane, kami langsung menuju Surfers Paradise dengan bis sewaan. Bis kecil berkapasitas 20 penumpang ini sangat banyak ditemui di sana. Kami memang sudah memesan bis ini melalui travel agent di Jakarta, pertimbangannya agar praktis aja. Perjalanan sekitar 1,5 jam dari bandara Brisbane ke Surfers Paradise. Perjalanannya lewat jalan tol, biaya tol adalah AUD $8, dan ini yang beda dari tol kita, kita gak perlu berhenti di gerbang tol untuk bayar. Kenapa? Karena mereka memakai teknologi e-toll. Jadi gak ada lagi tuh antrian di gerbang tol seperti umumnya di Indonesia. Bahkan saya gak ngeliat ada gerbang tol sama sekali. Betul-betul nyaman perjalanannya.

Di Surfers Paradise, kami menginap di Holiday Inn. Lokasinya dekat pantai, tapi karena winter, kami gak terlalu tertarik main di pantainya…iyalah, dingin banget kan? 😀

Hotel ini memiliki balkon di setiap kamarnya. Bagi yang suka foto, seperti saya, saat malam hari bisa dimanfaatkan mengambil gambar dari balkon. Sayangnya kamar saya menghadap ke arah kota, tapi lumayan, saya dapat 1 gambar bagus di sini.

Hari pertama di Surfers Paradise kami habiskan untuk berkeliling kota, ada beberapa spot menarik yang bisa dikunjungi dan semuanya bisa dicapai dengan berjalan kaki, salah satunya Wax Museum di pojokan Ferny Ave dan Elkhorn Ave. Museum lilin ini berisi patung lilin dari banyak tokoh sejarah. Selain itu, ini yang menarik untuk saya, mereka juga punya Chamber of Horrors. Isi ruangan ini bukan patung-patung hantu, tapi patung-patung orang yang sedang mengalami penyiksaan, lengkap dengan replika alat untuk penyiksaan. Cadas kan? :mrgreen:

Bagi yang perutnya gampang mules, seperti salah satu turis bule yang kebetulan saat itu berada dalam satu ruangan bersama kami, sebaiknya jangan memaksakan diri. Begitu terasa mual, langsung berhenti dan balik aja ke arah pintu masuk. Karena, semakin kita mendekati pintu keluar, adegan penyiksaan semakin cihui 😀

Hari kedua, kami menuju Warner Bros Movie World. Sebetulnya bisa naik bis umum dari hotel ke WBMW, tapi kami memilih menyewa mobil. Ada banyak car rental di seputaran Cypress Ave dan cukup mudah menyewa mobil di sana, cukup tunjukan SIM Anda dan kartu kredit. Beres.

Di Movie World ini banyak sekali wahana seru yang cocok untuk orang dewasa dan anak-anak. Kurang lebih mirip seperti Dufan. Hanya banyak bule aja 😀

Gak sih, kalau menurut saya, Movie World jauh lebih seru dibanding Dufan. Roller Coaster-nya tampak lebih menantang. Banyak wahana yang jauh lebih seru, dan kebetulan, hari itu ada semacam parade dan operet dari tokoh-tokoh kartun Warner Bros serta beberapa superhero pada saat menjelang jam penutupan. Dan, bule yang berkostum Wonder Woman itu cantik. #halah

Hari ketiga, gak banyak yang kami lakukan karena siang itu kami sudah harus ke bandara untuk terbang ke Melbourne. Kami hanya sarapan, dan jalan sebentar ke pantai untuk foto-foto. Ehiya…sarapannya Holiday Inn itu enak banget 😀

Nah, kota selanjutnya Melbourne. Tapi saya malas bercerita banyak soal Melbourne. Pokoknya kalau ke sana, bisa tanya travel agent Anda untuk info turis. Atau, kalau Anda backpacker, setelah sampai di Melbourne, Anda bisa langsung ke Tourist Information Center persis di depan Flinders Station (Stasiun kereta api di pusat kota). Masuk ke gedungnya, turun ke basement, di situ banyak petugas yang siap melayani rencana jalan-jalan Anda.

Ok lah, cukup segitu aja soal Melbourne. Postingan selanjutnya, saya bakal cerita soal Canberra. Yay!

Advertisements

5 thoughts on “Liburan Musim Dingin: Surfers Paradise.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s