YNWA: Semangat yang pas.

You’ll Never Walk Alone. Ini sebetulnya sebuah lagu. Kemudian dijadikan nyanyian wajib bagi pendukung Liverpoool FC (LFC). Sejarahnya bisa diintip di sana.

Pasca pensiunnya Zizou, saya memang agak malas menonton sepakbola karena ngerasa kehilangan greget. Semacam kehilangan nyawa gitu deh. Kemudian, setelah gak sengaja browsing sana-sini, saya menemukan lagu YNWA ini. Awalnya cuma suka dengan liriknya. Lalu jadi tertarik dengan LFC.

Singkat cerita, saya suka dengan lirik:

“When you walk through a storm. Hold your head up high, And don’t be afraid of the dark. At the end of the storm, There’s a golden star (sky), And the sweet silver song of a lark”

Di situ terkesan optimisme yang kuat. Iya kan? LFC memang sedang terpuruk karena kesalahan pemiliknya yang lama, tapi kita tetap optimis dan menaruh harapan pada pemilik yang sekarang.

Buat saya, kondisi LFC sama dengan Indonesia sekarang yang sedang ditimpa banyak bencana. Semangat YNWA ini yang membuat saya dan kawan-kawan bergerak membantu korban bencana Merapi, semampu kami tentu saja.

Awalnya, hanya kawan-kawan alumni SMP 3 Semarang angkatan saya yang mengumpulkan sumbangan. Lalu De, yang cewek tulen jebolan STM Shandy Putra Jakarta ini, ikut membantu dengan mengkoordinir sumbangan dari kawan-kawan STM-nya.

Si De ini yang juga mengenalkan saya dengan kawannya di Brebes. Kami jadi bisa mendapatkan telur asin dengan harga Rp. 900/butir. Cadas!

Dana yang terkumpul selama 1 minggu itu sejumlah Rp. 10.500.000, kami salurkan ke Muntilan dan Desa Plosogede di Ngluwar, Magelang, dalam bentuk paket sembako, tikar, pembalut, popok bayi dan dewasa, jas hujan, biskuit, susu UHT dan tentu saja, telur asin! :mrgreen:

Selain uang, ada juga yang menyumbangkan pakaian dalam untuk anak, buku cerita dan pakaian layak pakai.

Alhamdulillah, semua sudah tersalurkan langsung ke dua lokasi tersebut.

Sebetulnya, saya sempat berkoordinasi dengan Ime dan kawan-kawannya dari Komunitas Satu Merah Putih yang merencanakan kegiatan story telling dan macam-macam permainan untuk menghibur anak-anak di pengungsian di daerah Salaman. Sayangnya di tengah perjalanan, dapat info dari Ime kalau lokasi tersebut sudah pindah ke Banyu Biru. Dan karena masalah sinyal, komunikasi saya dengan komunitas itu terputus. Akhirnya saya dan kawan-kawan memutuskan mencari lokasi lain.

Sedikit cerita dari Desa Plosogede, ada seorang pengungsi yang tiap hari bolak-balik ke desa asalnya untuk memberi makan ternak. Kalau ada tebengan, ya nebeng. Kalau gak ada, ya saya berjalan kaki 30 km pulang-pergi. Demi masa depan kehidupan keluarga saya, mas. Begitu ucap bapak itu.

Ucapan sederhana. Tapi menampar sangat.

Bayangkan, berjalan kaki dengan kondisi normal mungkin banyak orang yang sanggup. Tapi kalau berjalan kaki sejauh 30 km dalam kondisi diselimuti abu tebal dan makanan seadanya ala pengungsi, saya yakin gak akan bisa dilakukan banyak orang. Kecuali dia punya niat kuat, demi keluarga. Bukan untuk dirinya sendiri.

Jujur aja, saya makin malas berkeluh kesah hanya karena kemacetan lalu lintas Jakarta. Banyaklah pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan kemarin.

Kalau sudah begini, siapa sebetulnya yang membantu? Kita, si penyumbang, atau para pengungsi yang mengajari kita dengan optimisme mereka?

P.S:

Nyaris lupa bilang terima kasih buat Wiwik yang bersedia rumahnya dijadikan pos selama di Jogja πŸ™‚

Advertisements

4 thoughts on “YNWA: Semangat yang pas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s