Iya, saya kangen nyetrit. Sejak 3 bulan di Bengkulu ini pikiran terkuras cuma buat gimana caranya hidup dari fotografi. In result, jadi gak pernah kepikiran untuk sekedar jalan nenteng kamera dan berbaur dengan keriuhan masyarakat di jalanan Bengkulu.

Street photography ini beda dengan genre human interest. Di street photo kita harus dapat drama atau keseluruhan cerita dari kejadian sehari-hari, bukan hanya ekspresi dari 1 manusia aja. Memang agak sulit, karena lebih mirip dengan photo journalism hanya bedanya, kalau nyetrit itu gak perlu harus ada unsur beritanya.

Selama di Bengkulu, saya lebih sering motret model, pre-wedding photo atau sekedar landscaping. Sama sekali belum pernah nyetrit. Karena walaupun termasuk genre yang santai, saat nyetrit tetap harus peka dan konsentrasi untuk menangkap ‘drama’ di sekeliling. Itu yang belum bisa saya lakukan. Mungkin karena secara nggak sadar otak saya terbawa bekerja menurut logika dan belum bisa diajak mikirin bikin foto yang sesuai minat.

Pertama kali saya belajar fotografi memang langsung suka dengan genre street photography. Mungkin karena sejak hari kedua saya punya kamera, saya langsung motret demo Mayday atau Hari Buruh. Sejak itu saya cinta street photo, atau gampangnya ‘nyetrit’.

Lha saking kangennya nyetrit, kemarin saya agak terbawa rasa saat sedang ramai-ramai motret model di studio. Kamera dan mata selalu siap nangkap momen. Hasilnya, jadi banyak foto candid saat model nggak sedang pose.

Hadeuuh…parah. Kayaknya besok harus jalan dan nyetrit!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s