Hari Kurban Blogger

Gak usah terpancing dengan judul postingan ini. Judul itu saya buat hanya karena saya malas mikir. Niat saya cuma mau cari judul yang pas untuk isi postingan kali ini. Iya, ceritanya bakal (kalau berhasil) tentang kurban dan blogger. Hanya karena kebetulan hari raya kurban datang duluan, ya saya tulis aja judulnya seperti itu.

Sejarah tentang kurban, bagi penganut atau yang pernah belajar tentang agama Islam, tentu semua sudah paham. Bagi yang belum, mari saya ceritakan inti ceritanya.

Di zaman para nabi dulu, tentu semua sudah maklum kalau banyak cerita yang bombastis. Hanya saja, cerita bombastis di zaman itu kini kita sebut dengan ‘mukjizat’ atau dengan ‘ajaran dari Tuhan’. Nah, sejarah kurban ini termasuk salah satu ‘ajaran’. Di sini kami, yang terlahir dari orangtua yang beragama Islam dan kemudian juga memeluk agama yang sama dengan yang melahirkan kami, diajarkan tentang pentingnya kepatuhan dan kecintaan terhadap Allah. Intinya itu. Detailnya? Googling atau tanya sama kyai/ulama di sekitaran rumah kamu.

Kurbaners, kita sebut aja seperti itu biar lebih terasa moderen, sebetulnya diajarkan juga tentang berbagi. Makanya dulu Allah mengganti Ismail as dengan domba. Bukan ayam. Kalau seandainya dulu beliau diganti ayam, mungkin ayam itu akan habis dimakan oleh Nabi Ibrahim as dan istrinya. Sementara kalau domba kan gak mungkin, ya sebetulnya bisa aja sih, tapi dengan resiko level kolestrol beliau naik. Makanya kemudian daging domba itu dibagi-bagikan. Itulah yang kami tiru sampai sekarang, membagikan daging kurban kepada sejumlah kelompok masyarakat.

Masalahnya, jumlah penduduk di zaman para nabi dan di era internet ini jumlahnya telah jauh berbeda. Makanya sekarang kita sering dengar kekacauan saat pembagian daging kurban di beberapa tempat. Lalu apakah konsep berkurban sudah gak cocok untuk masa sekarang? Tentu masih cocok lah. Yang perlu diubah ya cara distribusi dagingnya. Coba itu Kementrian Agama, MUI, alim ulama, dan FPI sekalipun ikut mikirin soal ini. Lha nanti kalau sudah ada konsep baru soal distribusi daging kurban, saya akan dengan senang hati membantu menyebarkannya melalui jemari (baca: blog, twitter, Fb) dan juga cangkem (baca: mulut) saya.

Maksud saya sih sebenernya sederhana, daripada yang terdengar seputar Islam itu soal gimana bodohnya FPI, gimana seringnya MUI ngeluarin fatwa dan gimana Kementrian Agama suka keteteran ngurusi gathering haji, kan mending mereka membuat inovasi. Islamnya sendiri gak usah diapa-apain juga udah indah, sebagian pemeluknya yang kadang terlihat bodoh. Ya termasuk saya ini. Tapi sebodoh dan serendah apapun pengetahuan agama saya, saya tetep orang Islam kok.

Demikian juga soal sebutan ‘blogger’. Sejarang apapun saya update blog, ya tetep aja saya blogger. Bangga disebut blogger? Nggak juga sih. Lha itu kan hanya sebuah penyebutan. Saya cuma senang disebut sebagai blogger karena dari kebiasaan ngeblog inilah saya punya banyak kawan. Malah secara nggak langsung, saya bisa terdampar di Bengkulu ini karena punya kawan yang saya kenal dari komunitas blogger. Kawan-kawan dari komunitas blogfam ini yang juga banyak membantu saat saya nyaris gila di akhir tahun 2011 dan awal 2012. Hebat ya? Kawan yang kita kenal dari dunia maya justru punya peran penting di dunia nyata.

Makanya buat saya, saat ada penyebutan Hari Blogger Nasional, gak penting itu sejarahnya seperti apa, tapi yang penting di hari tersebut saya bisa mengingat bahwa berkawan itu sebuah hal yang wajib. Kenapa wajib? Halaaaah…ya pokoknya wajib deh. Gak rugi kok punya kawan banyak. Ya ada juga sih kawan yang merugikan, tapi konon katanya kita gak bakal tau rasanya untung kalau belum pernah merasa rugi. Jadi, tetep berguna tho kawan yang merugikan itu?

“Bergaul” dengan blogger juga banyak manfaatnya kok. Kalau memang kita gak pintar membuat tulisan di blog, ya jangan kemudian mengurungkan niat bergaul dengan para blogger. Cukup kunjungi blog-blog mereka, baca isinya, kalau perlu meninggalkan jejak melalui kolom komentar. Banyak lho blogger pintar yang membagi ilmunya di blog mereka. Jangan anggap blogger hanya kayak saya yang cuma ngecuprus doang. Di ranah maya itu banyak betebaran ilmu, tinggal gimana kita aja. Kalau niat mencari, kita bisa nemu resep, cara ngoprek gadget, dan bahkan juga jodoh 😀 Eh ini beneran, anggota blogfam sudah ada yang ketemu jodohnya lewat blog. Bahkan sekarang sudah punya anak. Asyik kan? 😉

Nah mumpung Hari Raya Kurban dan Hari Blogger belum lama terlewat, bolehlah kita lanjutkan semangat dari kedua hari itu dengan terus berbuat baik kepada sesama dan terus menyebarkan ilmu dan juga menyerap ilmu. Udah ya, udah jam 3 pagi nih. Harusnya tadi saya udah tidur, cuma gak tau kenapa malah ngeblog.

Advertisements

2 thoughts on “Hari Kurban Blogger

  1. Beneeeeer deh ah ngecuprusnya. 🙂
    Salam dari blogger yg juga jarang ngeblog hehehe.

    Tahun ini muslim di Singapura hampir ngga motong sapi dan kambing, karena ada peraturan baru impor/ ekspor hewan dari Australia, yg dikeluarkan oleh pemerintah Australia. Waduh…untung bisa terlaksana juga akhirnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s