Prime Lens, Si Pacar Andalan

Saya suka mengumpamakan prime lens ini sebagai pacar andalan. Lensa lainnya bisa dianggap sebagai teman tapi mesra. Ibaratnya gini; dalam kondisi genting, secara intuitif saya akan mengandalkan pacar dulu untuk mengatasi masalah. Kalau untuk bersenang-senang, bisa dengan pacar atau dengan teman. Perlakuan terhadap prime lens ini juga mirip dengan pacar. Kadang kita harus mengatur diri kita, kapan harus maju, kapan harus mundur. Ya karena fixed focal length kan gak bisa di zoom. Kita yang harus bergerak. Mirip kalau sedang dengan pacar, kita harus pinter-pinter  atur diri. Misalnya ketika dia bertanya, ”Aku gendut gak?” Kita harus bisa menentukan kapan kasih jawaban jujur, atau, kapan harus kabur…

Baeklah…mari kita serius dikit. Dikit aja ya.

Banyak fotografer, dan pecinta fotografi, ngerasa wajib punya prime lens. Saya agak bingung menerjemahkan ’prime lens’ ke dalam bahasa Indonesia, tapi sederhananya adalah, lensa yang tidak bisa nge-zoom atau disebut juga fixed focal length lens.

Kenapa merasa wajib punya? Karena lensa ini memang punya karakter yang bagus. Dia relatif lebih cepat, ringan dan hasil gambarnya tajam. Ada satu fixed lens yang layak jadi favorit karena selain performanya yang bagus, harganya pun murah. Coba aja cek harga lensa 50mm f1.8. Dulu harganya ada di kisaran 800-900 ribu, sekarang mungkin sekitar sejuta karena pengaruh dollar. Dengan harga segitu, kita sudah dapat aperture maksimum f1.8, yang artinya sangat bagus untuk dipakai dalam kondisi cahaya yang minim. Bandingkan dengan lensa kit 18-55mm yang harganya di atas 2 juta rupiah, aperturenya f3.5-5.6. Oh iya, untuk sebagian besar pecinta bokep bokeh, lensa 50mm f1.8 ini hukumnya wajib punya.

Dulu prime lens sangat diandalkan oleh beberapa fotografer karena performanya yang jauh di atas zoom lens. Sekarang, dengan kemajuan teknologi, memang sudah banyak zoom lens yang mumpuni. Tapi jangan lupa, ada istilah sweet spot untuk zoom lens. Ketajaman zoom lens sebetulnya tidak merata di semua focal length-nya, dia hanya tajam di 1 focal length, ini yang disebut sweet spot. Sekedar contoh, misalkan di lensa 18-200mm yang tajam hanya di focal length 70mm. Eh tapi ini hanya sekedar menggambarkan sweet spot, bukan contoh kondisi sebenarnya ya. Sementara masalah ini nggak kita temui di prime lens, ya karena focal length-nya hanya 1, atau fixed. Tentu sekarang sudah banyak zoom lens yang ketajamannya hampir rata di semua focal length tapi harganya pasti sangat mahal.

Saya sendiri punya banyak cerita dengan lensa fixed. Salah satunya ketika saya sedang liburan di Semarang, saya diajak seorang kawan jalan-jalan dan kemudian ke salon karena dia harus berdandan untuk sebuah acara. Dia minta dipotret saat sedang berdandan. Waktu itu saya baru mulai belajar fotografi, jadi nggak mungkin saya menolak kesempatan motret. Lensa pertama yang saya ambil adalah lensa 50mm. Saya malas kalau harus nenteng lensa 24-70mm yang berat itu. Iya sih, bagi pengguna Canon yang masih baru belajar macam saya waktu itu, kesannya keren banget kalau nenteng lensa L series. Tapi saya pikir, inikan bukan tentang saya, ini tentang kawan saya yang minta tolong dipotret saat dia berdandan. Tentunya dia berharap hasil fotonya yang keren, bukan temannya yang baru belajar motret itu yang terlihat keren nenteng lensa seharga motor matic.

Jadilah saya tenteng lensa 50mm, selain praktis dan ringan, saya juga bisa mengandalkan kemampuannya dalam menangkap cahaya. Lagipula saya nggak tahu gimana kondisi penerangan di salon langganan teman saya itu. Malah kata teman saya, sebetulnya itu bukan salon tapi rumah si perias. Ya sudah, makin mantaplah saya membawa fixed lens.

SitaTernyata, di rumah perias itu memang hanya ada satu lampu. Selebihnya mengandalkan cahaya matahari yang masuk dari jendela. Memang sih, saya bisa seting ISO tinggi untuk kondisi cahaya yang kurang terang, tapi ini bakal menimbulkan masalah pada kualitas gambar kalau nggak hati-hati. Jangan lupa, saat itu saya masih belajar. Nentuin shutter speed dan aperture aja masih belepotan, jangan lagi harus mikir ISO berapa yang kudu dipakai. Bisa-bisa malah kehilangan moment. Kan gak mungkin saya nyuruh mbak perias untuk mengulang proses memoles bibir kawan saya, intinya gak mungkin deh saya mengganggu pekerjaannya. Bisa-bisa nanti hidung saya dicatok sama si mbak itu. Singkat cerita, misi hari itu sukses. Kawan saya, namanya Sita, cukup puas dengan fotonya. Hasil foto lainnya bisa dilihat di home page blog ini.

Sekarang, dengan semakin banyaknya ilmu fotografi yang saya pelajari, saya juga menjadi semakin percaya diri menggunakan prime lens yang lebih mahal. Terutama ketika sedang bekerja. Toh kalau dalam kondisi kerja, selalu ada orang yang membantu membawakan peralatan, jadi gak perlu takut kerepotan kalau harus membawa banyak lensa. Kekurangannya prime lens memang itu, kita harus bawa banyak lensa untuk masing-masing kebutuhan. Makanya, kalau kita traveling dan lebih mementingkan kesenangan dibanding kualitas foto, memang sebaiknya membawa lensa zoom sapu jagat seperti 18-200mm. Atau 18-135mm juga sudah cukup memenuhi kebutuhan selama jalan-jalan.

Kalau saya, ke mana-mana tetap nyelipin si 50mm walaupun membawa lensa sapu jagat. Kan bentuknya mungil, bisa masuk kantong celana. Pokoknya bagi saya mah gak repot lah, toh sepadan dengan hasilnya. Sama kalau sedang hang out dengan teman, kan tetap harus ingat pacar, ya kan? Iya sajalah.

Jadi, cobain deh pakai prime lens. Kalau belum mampu beli ya pinjam saja. Atau sewa. Bisa jadi kalian nanti jatuh cinta. Eh, kata ’pinjam’ dan ’sewa’ itu hanya untuk lensa, bukan untuk pacar apalagi istri. Bye.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s