Ke Cilacap Dengan Susi Air

Nggak tau kenapa, sejak pertama kali mendengar nama Susi Air saya pingin sekali merasakan terbang dengan maskapai kecil ini. Mungkin karena kagum dengan latar belakang Bu Susi si pemilik Susi Air itu. Atau karena saya memang kangen terbang menggunakan pesawat baling-baling, entahlah.

Sebetulnya saat merantau di Bengkulu, saya juga lihat ada Susi Air yang melayani rute ke beberapa kota kabupaten. Tapi waktu itu agak mikir juga kalau nekat traveling naik pesawat, lha wong ngatur cash flow untuk hidup selama di rantau aja saya megap-megap. Jadi untuk sementara waktu saya tahan dulu nafsu jalan-jalannya, toh sebetulnya saya sudah sempat keliling provinsi Bengkulu dari ujung ke ujung karena menjadi juri sebuah acara dari suatu perusahaan rokok.

Keinginan naik Susi Air akhirnya bisa terlaksana di bulan Oktober yang lalu, itu pun karena saya dapat pekerjaan membuat company profile sebuah perusahaan kapal tanker. Kebetulan kota yang dituju adalah Cilacap, salah satu kota di Jawa yang dilayani penerbangan Susi Air. Lumayan deh, jalan-jalan gratis (lagi).

Garuda Indonesian Airways
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Garuda_Indonesian_Airways_McDonnell_Douglas_DC-10-30_Gilliand.jpg

Jujurly, saya sudah ngerasa kegirangan gilak sejak menerima tiket dari klien. Karena di tiket itu yang tertera adalah kode bandara HLP (Halim Perdana Kusuma), bukan CGK. Terus terang  saya bosan dengan bandara Soekarno-Hatta, lagipula saya punya banyak kenangan masa kecil di bandara Halim. Saya masih sempat merasakan pergi dan pulang melalui bandara ini, saat Garuda Indonesia masih berkelir merah, saat bapak masih ada. Duh…jadi kangen bapak.

Saat hari keberangkatan, perasaan senang itu betul-betul membuncah. Bahkan rasa malu ketika ditimbang berat badanpun hilang saking gembiranya saya. Iya, ada kejadian memalukan saat check in di counter Susi Air. Jadi, selain barang yang masuk ke bagasi, kalau kita naik pesawat kecil seperti Cessna Caravan yang digunakan oleh Susi Air ini setiap penumpang juga wajib ditimbang beserta tas yang dibawa ke kabin. Saat itu saya menenteng tas ransel berisi kamera dan pakaian, dan saat ditimbang, bukan angka kilogram yang muncul…tapi sebuah bunyi alarm sebagai tanda kalau berat saya melebihi berat maksimal. Blah. Tapi tenang aja, kelebihan berat itu gak akan dikenakan biaya tambahan kok. Kalau mau tahu kenapa penumpang juga ditimbang beratnya, ya tanya saja sama petugas di sana. Hih.

Singkat cerita, akhirnya saya merasakan (lagi) terbang dengan pesawat kecil berpropeler ganda. Semoga foto-foto di bawah ini bisa menceritakan kenapa saya lebih suka terbang dengan pesawat komersial kecil ketimbang pesawat besar yang terbang di ketinggian puluhan ribu feet.

Wangi semerbak dari parfum mbak-mbak hijabers.
Wangi semerbak dari parfum mbak-mbak hijabers.
Bisa ngejitak pilotnya kalau mereka nakal.
Bisa ngejitak pilotnya kalau mereka nakal.
Masih terasa dekat dengan bumi.
Masih terasa dekat dengan bumi.
Dan yang pasti, sulit bisa dapat view ini kalau naik jet besar.
Dan yang pasti, sulit bisa dapat view ini kalau naik jet besar.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s