Akhir tahun ini di Semarang, tampaknya akan tanpa hingar-bingar pesta, bahkan tanpa acara apapun. Sama seperti beberapa tahun sebelumnya. Bahkan akhir tahun lalu cuma saya lewati sendirian di Bengkulu, di dalam kedai. Cuma ditemani sebungkus rokok, laptop dan bergelas-gelas kopi.

Akhir tahun sama saja seperti akhir minggu atau akhir bulan, bagi saya. Tak peduli itu tahun islam, tahun masehi atau tahun planet Pluto sekalipun, jika ada. Bahkan ketika status Pluto sebagai planet dicabut, saya juga nggak peduli. Waktu itu cuma sedikit ikut bersyukur untuk anak SD bahwa tugas menghapal nama planet sekarang sudah berkurang. Itu saja.

Sama tidak pedulinya saya tentang akhir tahun. Selama tidak ada yang harus dirayakan, kenapa harus repot? Apalagi sampai harus ikut ribet di jejos (jejaring sosial) tentang halal-haramnya perayaan akhir tahun. Kalaupun ada yang harus saya syukuri selama 1 tahun ini, biasanya sudah saya lakukan pada ketika saya menerima nikmat itu. Demikian juga kalau ada yang harus disesali, nggak perlu nunggu sampai akhir tahun.

Bicara tentang nikmat dan sesal, tahun ini banyak sekali. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya berbeda bentuknya saja. Dimulai sejak akhir bulan Januari, ada nikmat dalam bentuk #MbakBromo. Bulan Maret, saya ulang tahun sekaligus (terpaksa) memutuskan untuk meninggalkan Bengkulu dan kembali ke Jakarta karena kondisi kesehatan bapak. Bulan Juni, bapak meninggal. Setelah itu, saya nikmati saja jalan hidup sampai hari ini. Toh semuanya sama dari tahun ke tahun, cuma tentang bahagia dan sedih, cuma beda wujudnya saja.

Kalaupun ada yang harus diingat di tahun ini, hanya tentang kehilangan keberadaan bapak dari cerita hidup. Mungkin seperti seperti kehilangan pohon beringin besar yang selama ini meneduhi. Atau seperti minum kopi tanpa gula dan susu, masih bisa diminum walau pahit.

Cerita tentang bapak mungkin memang sudah waktunya diakhiri, hanya ajarannya saja yang perlu dilanjuti. Toh saya juga seorang ayah.

Cerita di blog ini juga sepertinya harus diakhiri, karena sudah ada tempat berceloteh yang baru. Semoga di tukangecuprus.com tidak ada kendala lagi seperti beberapa bulan sebelumnya, kalaupun ada, seharusnya bisa dicari solusinya. Sama seperti jalan hidup yang ada di depan, jalan yang baru, tantangan baru, cerita baru harus disertai dengan niat dan ikhtiar yang baru. Untuk teman-teman yang masih suka berkunjung ke blog ini, selamat menjalani episode baru dalam cerita hidup masing-masing. Semoga kita semua bisa menjalani setiap hari baru dengan penuh semangat dan keceriaan. Aamiin. Jangan lupa sesekali mampir ke rumah baru di tukangecuprus.com ya 😉

Advertisements

One thought on “Tutup Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s