Salahkan Saja Tol Cipali

Memang awalnya karena penasaran, lalu datang kesempatan untuk mencoba jalan tol terbaru di Indonesia Raya ini. Kebetulan mbak Bromo pulang ke Indonesia dan harus ke Cirebon, maka saya pun menawarkan diri untuk mengantarnya ke sana. Jadi, jujurly, bukan karena sok romantis mau menikmati perjalanan bersama mbak Bromo, ini beneran karena penasaran kepingin nyoba jalan tol yang baru itu (semoga mbak Bromo gak baca).

Sejak bisa nyetir, saya memang sangat menikmati momen mengendarai mobil ke luar kota. Destinasi gak begitu penting, yang penting perjalanannya. Dulu malah pernah sampai ke Semarang, padahal niatnya cuma mau ke rumah kawan di daerah Rawamangun. Saya lupa awalnya gimana, tapi waktu keluar dari komplek rumah dan masuk ke tol dalam kota, tiba-tiba saya memutuskan untuk ambil arah Cikampek. Bukan arah Tanjung Priok. Lalu bablas sampai Semarang. Iya, saya dulu memang ajaib. Mungkin sekarang juga masih ajaib sih.

Nah, ketika ramai pemberitaan tentang tol Cipali, tanduk di kaki saya langsung keluar. Rasanya gatel banget kepingin ngebejek pedal gas. Ya tentu selain pedal gas, pedal rem dan kopling juga lah. Kan mobil saya bukan matic. Eh, soal matic atau manual ini penting banget gak sih untuk dibahas? Atau mending bahas soal hati? Hambuh lah.

Enaknya hidup di era digital ini, kita lebih mudah mencari info. Jadi beberapa hari sebelum mulai menggerayangi tol Cipali, (((MENGGERAYANGI))), saya ubek-ubek dulu twitter dan beberapa portal berita demi mendapat sejumput informasi. Kalau untuk mendapat jodoh mah insya Allah gak perlu lah dari twitter dan portal berita, bukan begitu? Iyain aja.

Panduan Tol Cipali
Panduan Tol Cipali

Dari beberapa sumber itu, saya juga dapat info soal rawannya tol Cipali. Rawan karena kurangnya penerangan, kurang rambu jalan dan kondisi jalan yang relatif lurus dan panjang. Soal lurus dan panjang ini tolong tetep pada fokus bahwa ini membahas tol Cipali, bukan alat r e p r o d u k s i!

Sebelum berangkat pun ada yang mewanti-wanti untuk menggunakan jalur pantura saja jika hendak ke Cirebon malam hari. Ini karena kurangnya penerangan itu tadi. Tapi karena memang sudah berniat mencicipi tol Cipali, saya menolak opsi itu.

Dan ternyata memang kondisi tol Cipali nyaris sesuai dengan semua info yang saya dapat. Penerangan memang minim, lampu jalan hanya ada di tiap interchange (a junction of two or more highways by a system of separate levels that permit traffic to pass from one to another without the crossing of traffic streams). Tapi bukan berarti kondisinya jadi gelap gulita, toh setiap mobil punya lampu yang nempel di moncongnya kan, ya? Lalu soal rambu-rambu memang relatif kurang, tapi gak signifikan deh. Lalu jalanannya memang nyaris rata jika dibanding tol Cipularang. Tapi secara keseluruhan, saya bisa menikmati tol Cipali.

Ya jelas bisa menikmati, karena jaman sebelum ada tol Cipali itu untuk mencapai Cirebon dalam waktu 3-4 jam perlu konsentrasi dan ngegas maksimal. Kemarin saya bisa sampai Cirebon dengan waktu tempuh segitu cukup dengan kecepatan 80-100 kpj. Itupun masih diselingi canda tawa dengan mbak Bromo dan anak saya. Kami juga beberapa kali berhenti di tempat istirahat. Sampai di Cirebon masih dalam kondisi bugar. Seandainya malam itu saya berkendara sendiri, mungkin bisa sampai Pluto saking segarnya badan. Lebay.

Sebetulnya, menurut saya, yang menjadikan tol Cipali rawan itu bukan kondisi tolnya. Tapi tabiat para penggunanya. Ini mirip dengan kecantikan Zhao Wei, kalau kita mimisan karena kecantikan Zhao Wei, yang salah bukan dia kan? Tapi salah kita karena gak menjaga kebugaran hidung sampai bisa mimisan.

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Zhaoweiredcarpet.jpg
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Zhaoweiredcarpet.jpg

Selama mengarungi tol Cipali, paling tidak ada 3 pengemudi yang ngebut dan berpotensi celaka. Kalau sekedar ngebut mah gak masalah, ini ngebut dan gak sabaran minta lajur kanan. Padahal situasi saat itu di lajur kiri sedang banyak mobil sehingga saya nggak bisa pindah lajur dan memberinya jalan untuk mendahului. Bahkan ada 1 pengemudi yang berulang-ulang memainkan lampu jauh dan drafting (menempel ketat di belakang) mobil saya. Kelakuan bodoh seperti ini yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

Kondisi tol Cipali memang sangat menggiurkan untuk ngebut, saya pun ketika pulang ke Jakarta tergoda untuk melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi itu saya lakukan dengan penuh perhitungan dan juga karena kondisi jalan yang sepi. Ya ibarat dengan Zhao Wei tadi, iya sih dia cantik, tapi kan saya harus berhitung kalau mau modusin dia. Pertama, apa mungkin saya modusin artis top Asia? Kedua,kalau pun memungkinkan, apa iya dia mau sama blogger pipi tembem yang menggemaskan ini?

Jadi, untuk semua yang menggunakan tol Cipali dan seluruh jalanan di Indonesia raya tercinta ini, mari kita sadar diri. Jangan terburu-buru menyalahkan kondisi jalan kalau memang kita sendiri belum mampu berkelakuan yang benar di jalan. Terutama di jalan tol, lengah dikit pasti runyam. Oiya, coba ingatkan teman-temannya yang masih suka berkendara dengan kecepatan lambat di lajur kanan. Suruh mereka baca rambu tol, di situ tertulis bahwa lajur kanan itu untuk mendahului, jadi kalau lambat ya di kiri aja. Dan juga yang suka memakai bahu jalan untuk ngebut, please deh…situ gak punya bahu to cry on apa, ya? *kemudian nyanyi Shoulder To Cry On by Tommy Page*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s