Akhirnya bisa lagi menggunakan idiom jawa geger genjik udan kirik. Idiom ini saya dapat dari orang Jogja, entah siapa namanya, lupa. Geger itu punya arti ribut atau keributan, genjik adalah sebutan untuk anak babi, udan artinya hujan, kirik sebutan untuk anak anjing. Jadi makna dari idiom ini adalah keributan yang luar biasa. Bisa tho ngebayangin ributnya kandang anak babi? Lalu ditambah dengan hujan anak anjing, selain berisik karena suaranya, efeknya pasti luar biasa. Lha wong hujan air aja bisa jadi bahan nyinyirin Gubernur, apalagi udan kirik, yo ra?

Unjuk rasa pengemudi taksi pada tanggal 22 Maret yang lalu itu itu efeknya memang luas. Selain membuat pemerintah harus merumuskan aturan baru, unjuk rasa itu juga mampu membuat para netizen berpolemik. Termasuk saya sekarang ini. Tapi motivasi saya menulis ini sebetulnya karena terpaksa diminta untuk menulis di majalah dinding alumni SMP, karena gak punya bahan, akhirnya saya tulis saja opini tentang taksi ini. Jadi kalau mau versi yang agak sopan, monggo baca di Aksara389.

Kenapa saya pakai idiom geger genjik udan kirik? Karena memang pada saat kejadian terjadi keributan yang aneh, lha ya aneh tho kalau para pengemudi taksi yang sedang berjuang meminta keadilan justru bertindak anarkistis dengan cara melakukan sweeping dan merusak mobil kawannya yang sedang bekerja membawa penumpang. Kalau kawannya itu tetap bekerja karena perlu uang untuk menghidupi keluarganya, gimana? Kan mereka memang tidak bergaji, pendapatan mereka hanya dari komisi, artinya kalau gak kerja ya hari itu gak dapet duit. Simpel. Lagipula jumlah yang berunjuk rasa di depan gedung wakil rakyat itu jumlahnya sudah sangat banyak, macam semut merubung gula atau jomblo mengerumuni Raisa, hambok biarin aja kalau ada temennya yang mau tetap kerja.

Selain keributan saat unjuk rasa, terjadi juga keriuhan di media sosial. Banyak netizen yang menyebar laporan keuangan beberapa perusahaan taksi. Ada juga yang bercerita pengalaman buruknya ketika menggunakan taksi plat kuning. Kenapa cerita-cerita ini bermunculan? Karena para netizen ini beranggapan bahwa unjuk rasa pengemudi taksi itu salah sasaran.

Selain unjuk rasa yang dianggap salah sasaran, manajemen salah satu perusahaan taksi yang pengemudinya berunjuk rasa itu mencoba menetralisir keadaan dengan kebijakan taksi gratis di hari berikutnya. Blunder.

Karena itulah akhirnya banyak masyarakat yang justru bereaksi negatif. Beda ketika dulu para pengemudi taksi plat kuning dan berargometer ini jadi sasaran unjuk rasa pengemudi taksi plat kuning lainnya karena kehadiran mereka dianggap akan mengurangi rejeki pengemudi taksi yang sudah lebih dulu beroperasi, ini terjadi di Bandung dan Semarang. Atau ketika mereka menjadi korban kericuhan di stasiun Gambir, karena dianggap mendapat perlakuan eksklusif.

Saya sebenarnya gak mau bahas unjuk rasa dan efeknya itu, cuma tertarik aja dengan fenomena unjuk rasa yang kemudian menyebabkan keributan yang lebay. Apa ya semua masalah harus ada unjuk rasanya? BBM naik, unjuk rasa. Tarif toll naik, unjuk rasa. Ini soal taksipun sampai harus unjuk rasa. Situ jomblo atau memang hidupnya getir karena gak bisa move on dari mantan?

Atau mungkin sebagian orang Indonesia itu memang doyan berekspresi ya? Unjuk rasa itukan tindakan mengekspresikan sebuah tuntutan. Mungkin gak cukup nendang kalau sekedar menyampaikan tuntutan lewat forum kecil, harus banget berekspresi di jalanan. Mungkin, lho. Kalau doyan bereproduksi sih iya, lihat aja jumlah penduduk Indonesia. Daripada berunjuk rasa, apa gak mendingan bersantai di pantai gitu?

LJ2G0104dtngr

Kalau banyak masalah harus melalui unjuk rasa dulu sebelum akhirnya dibereskan, terus apa gunanya perwakilan rakyat? Nyinyir di media sosial? Itu mah rakyatnya udah jago.

Mungkin ada juga gunanya unjuk rasa, sayangnya sekarang ini banyak unjuk rasa yang tidak murni, ngikutin berita soal JIS kan? Konon itu salah satu unjuk rasa yang tidak murni, alias pesertanya diberi sangu. Entah berupa apa.

Kalau untuk saya, unjuk rasa gunanya ya jadi bahan ngeblog. Itu juga kalau lagi mood nulis atau lagi disuruh ngisi blog alumni itu.

Nah, balik lagi soal taksi, baca deh Demokrasi Taksi. Di situ kayaknya lebih jelas isinya, tim editornya galak sih. Bakal kena jewer kalau nulis yang ndak jelas. Kalau di sini memang sebatas ngecuprus aja, tapi jangan bosan mampir ya! 😉

 

 

Advertisements

One thought on “Urusan Taksi Yang Geger Genjik Udan Kirik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s