Saya suka dengan yang berpegang teguh pada syariat dan akidah. Karena sebagai umat beragama, keimanan adalah patokan segalanya. Mengukur iman tentu harus dilihat sejauh mana umat Islam menjalankan tuntunan Allah dan Rasul. Tuntunan Allah bisa dilihat dari Quran. Tuntunan Rasul, salah satunya, bisa dicontoh dari tindakan beliau.

Setuju ya?

Jadi ketika memilih pemimpin, dalam artian kepala pemerintahan di Indonesia, tidak perlu kita menimbang isi UUD 45 pasal 27 ayat 1. Apalah gunanya konstitusi yang dibuat atas kesepakatan bersama oleh para pemimpin kita terdahulu demi terwakilinya masyarakat yang majemuk ini? Tapi UUD 45 pasal 28 harus kita junjung tinggi karena pasal itulah yang menjamin kebebasan untuk berserikat dan mengutarakan pendapat.

Kalau pasal 28 UUD 45 tidak ada, lalu bagaimana kita bisa membuat status di media sosial semau kita tanpa perlu memikirkan keragaman budaya dan agama teman-teman kita di dunia maya?

Khusus untuk urusan memilih pemimpin, cukup merujuk pada ayat di kitab suci tanpa perlu mengkaji kenapa ayat tersebut diturunkan, tidak perlu membaca hadits sahih yang membahas ayat itu, tidak perlu memahami tata dan makna bahasa Arab, tidak perlu melihat pendapat para sahabat semasa Rasul serta para ahli tafsir setelah masa Rasul. Tidak perlu juga memahami kalimat rahmatan lil alamin.

Apalagi memahami jenis ayat, apalah perlunya kita tahu ada jenis ayat muhakmat yaitu ayat yang kalimatnya jelas, dan ada pula jenis ayat mutasyabihat yang sifatnya multitafsir.

Yang penting seakidah, cukup. Tidak perlu tahu apakah dia amanah menjalankan akidahnya atau tidak. Tidak perlu pusing mikirin mutu kepemimpinannya. Yang penting seakidah, selesai masalah.

Toh sudah lama kita terbiasa dengan argumentatum ad hominem, menyerang seseorang melalui kepribadiannya, sehingga keluar dari inti bahasan. Masih ingat saat Aa Gym menikah lagi kemudian Pondok Daarut Tauhiid mendadak sepi, kan? Itu sekedar contoh saja.

Jadi ya wajar saat kita membahas pimpinan pemerintahan, yang perlu ditelisik adalah keimanannya. Tidak perlu kita lihat kinerjanya sebagai pelayan rakyat. Kita juga ndak perlu ndakik-ndakik ngebahas bahwa kepala daerah itu sebetulnya tidak bisa diartikan sebagai pemimpin yang absolut.

Tidak perlu lagi belajar bahwa Indonesia adalah negara demokrasi, di mana pemilik mandat adalah rakyat. Artinya, kita sebagai rakyat memberikan suara kita kepada kepala pemerintahan untuk melayani dan menjalankan amanat rakyat sesuai dengan konstitusi dan diawasi oleh pihak legislatif.

Tapi sekali lagi, kita tidak perlu bahas itu karena Indonesia ini milik agama mayoritas. Pilih pemimpin yang seakidah. Kalau korupsi, anggap saja khilaf, tidak perlu masuk sidang Tipikor. Kalau ada putusan yang tidak sesuai dengan kehendak rakyat, ya tabayyun, tidak perlu di-PTUN-kan. Selesai masalah.

Saya suka dengan orang yang saklek memakai dasar agama sebagai patokan dalam soal pemimpin, ini berarti kita tidak perlu lagi keluar energi untuk berdebat soal pemimpin wanita yang jelas dilarang dalam sebuah ayat. Kita jadi bisa menggunakan energi tersebut untuk melanjutkan hidup dan memikirkan tagihan yang harus dibayar setiap bulan.

Apalagi kalau memakai dalil agama untuk urusan poligami, wah, jos gandos!

 

 

Note: Semoga Mbak Bromo gak baca kalimat terakhir. Berdoa, mulai.

Advertisements

2 thoughts on “Memilih Pemimpin Sesuai Akidah

  1. the reason gw malea denger orang ngomong “Donald Trump rasicts” atau “gw males ah ke Australia, orangnya racist”
    apa bedanya sama kalian kalo jadi mayoritas… ?

  2. Hahaha..itulah, jadinya sama aja. Bahas agama secara terbuka di lingkungan yg majemuk itu rawan, cuma krn berasa mayoritas jadinya banyak yg cuek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s