Ada Apa Di IIMS 2015, Ada Gairah Dan Cowgirl

Saat pasar otomotif lesu pameran dibutuhkan agar pasar bergairah, itu yang ditwitkan akun twitter @Pak_JK. Semoga pasar benar-benar bangkit dan penuh gairah saat gelaran motorshow ini digelar, dan begitu juga sesudahnya. Aamiin. Yang pasti, tadi banyak orang bergairah karena sajian mobil mengkilat dan motor mentereng. Mulai dari super cars sampai mobil harian, tersaji di sana. Bahkan ada cowgirl di salah satu brand mobil peserta pameran. Eh, itu sepatu cowgirl bukan? Halah. Continue reading “Ada Apa Di IIMS 2015, Ada Gairah Dan Cowgirl”

Samalona, Si Cantik Dari Makassar

Kalau bahas tentang pulau-pulau kecil di sekitaran Makassar, mungkin perbandingan yang tepat itu kalau kita, yang cowok terutama, ngebayangin sedang berada di tengah finalis Miss Universe. Ibarat kata, walau kita asal nunjuk sambil merem pun pasti yang tertunjuk adalah gadis cantik. Continue reading “Samalona, Si Cantik Dari Makassar”

Ungu In Black n White

Ini cerita di belakang layar salah satu pengalaman saya ketika memotret, siapa tahu berguna untuk teman-teman yang berkunjung ke blog ini.

IMG_9945Rencana reuni dengan Ungu sebetulnya  sekitar seminggu atau dua minggu yang lalu. Kebetulan waktu itu Makki ngetwit akan show di Tasikmalaya, saya pun saat itu berencana jalan-jalan ke Cipatujah, Tasikmalaya. Sayangnya saya batal ke Tasik karena….diare. Gak keren banget deh alesannya.

Akhirnya saya baru bisa ketemu mereka akhir pekan kemarin saat mereka tampil di Cilegon. Nah, ini yang saya mau ceritakan. Sejak berangkat dari rumah menuju basecamp Ungu di kawasan Tebet, sudah ada beberapa kejadian yang bikin perasaan gak nyaman. Ketika melewati Universitas Indonesia, entah kenapa saya masuk ke lajur yang menuju gerbang UI dan gak bisa langsung memutar balik karena jalur keluarnya ditutup petugas, entah hari itu ada acara apa di sana. Terpaksa saya harus mengitari kawasan UI dan keluar melalui jalur yang melewati Fakultas Tehnik.

Lalu kejadian kedua adalah, plat nomer motor terlepas saat melewati gedung Sucofindo di jalan Pasar Minggu. Padahal saya yakin sekali plat itu terpasang erat karena baru ganti nomer beberapa hari yang lalu. Entah apa perasaan pengguna jalan lain ketika saya turun dari motor dan dengan gagah membelah keramaian arus demi mengambil plat nomer yang tercecer di aspal itu. Mungkin mereka kaget juga ketika melihat ada versi gempalnya Ahok sang Wagub DKI di jalanan Pasar Minggu. Blah.

UnguTapi setelah itu alhamdulillah perjalanan lancar sampai Tebet dan perjalanan dari Tebet ke Cilegon pun aman. Malah saya sempat tertidur di mobil bareng Onci dan crew Ungu, ya lumayanlah, jadi suatu hari nanti bisa cerita kalau saya pernah tidur bareng Onci. Halah.

Menjelang sore, ketika sudah bertemu, ngobrol dan bernostalgia dengan semua member Ungu, saya sudah lupa dengan kejadian pagi itu. Apalagi ketika malam saat ngumpul di tenda belakang panggung pertunjukan dan asyik ngobrol dengan Enda yang juga hobi motret, sudah semakin gak kepikiran lagi. Ohiya, saya jadi bertambah ilmu saat melihat akun IG milik Enda. Cadas lah bakat fotografi dia.

Lalu keseruanpun dimulai saat mereka naik ke panggung, dan saya pun mempersiapkan kamera untuk mengambil aksi mereka. Tahu gak sih? Begitu saya menjejakkan kaki di panggung dan siap menjepretkan kamera, kameranya trouble. Fiuh…mumet! Seru-seru semriwing gitu deh rasanya. Padahal itu kamera aman-aman aja waktu dipakai foto bareng di tenda, bahkan sebelum naik ke panggung pun saya masih sempat mengambil beberapa shots dari backstage area.

Masalah pertama yang muncul adalah, titik fokusnya gak berfungsi. Menghilang aja gitu dari view finder. Akhirnya dia balik lagi tapi membandel, gak mau diatur. Saya ini termasuk fotografer yang lebih suka menentukan sendiri di mana letak titik fokus. Saya gak suka kalau kamera yang mikir buat saya. Nah saat itu, seperti biasa, saya set fungsi kamera supaya bisa menentukan titik fokus semau hati, tapi ternyata kelakuannya masih seperti setingan auto.

IMG_9933Setelah itu teratasi, ada lagi masalah baru, kelakuan si kamera seperti sedang diset di low speed, padahal saat itu speed ada di 1/400. Waduh, pecah kepala deh. Sempat nyesel karena gak bawa kamera cadangan dan jadi teringat kejadian-kejadian pagi tadi. Sebetulnya saya gak terlalu percaya dengan pertanda-pertanda atau apalah itu namanya, tapi ternyata ketika ada kejadian seperti itu rasanya manusiawi sekali kalau kemudian teringat dan lalu menyadari bahwa apapun ceritanya, kita gak boleh takabur.

Jadi sebelum berangkat ke Cilegon, saya sempat terpikir untuk membawa kamera cadangan seperti biasanya. Tapi kemarin saya gak bawa karena saya yakin kamera yang ini gak akan bermasalah. Ya biar bagaimanapun, kamera 5D ini lebih baru dibanding kamera 1D. Selain itu saya juga gak mau repot kalau harus bawa 2 kamera, karena artinya harus memakai tas yang lebih besar. Akan sangat merepotkan kalau nanti harus membawa gembolan besar ke atas panggung.

Tapi, lagi-lagi, alhamdulillah, akhirnya kamera kembali berfungsi normal. Tau gak sih apa yang saya lakuin saking bingungnya sama kelakuan si kamera? Selain menghapus semua setingan, melepas dan memasang ulang lensa, ngeformat memory card…tindakan ini yang menurut saya paling fenomenal, adalah, copot batere! Macam pakai blackberry aja. Sayangnya kamera sembuh total saat Ungu hampir selesai performing, mereka memang hanya ngebawain 9 lagu, jadi waktunya pendek sekali. Saya belum sempat memotret Rowman dan Andi. Foto-foto yang saya tampilkan ini adalah beberapa momen dari sedikit yang bisa terekam dengan baik.

Ungu

Pelajaran untuk saya, jangan pernah terlalu yakin dengan alat. Yakin sama Tuhan dan hati aja, dan jangan pernah lupain jasa mantan. Eh, mantan ini maksudnya mantan kamera andalan yang sekarang sudah jadi kamera kedua, tergeser oleh kamera yang lebih seksih ^^

Jenuh Karena Kerja Menekuni Hobi?

Bagi yang menjadikan hobi sebagai pekerjaan, seperti saya, sering dapat pertanyaan ini gak?

Kalau jenuh, hiburannya apa dong?

Saya selalu jawab dengan, kalau jenuh ya ngerjain hobinya aja. Itulah enaknya punya pekerjaan dari hobi. Kalau namanya hobi, ya susah jenuh. Kalaupun jenuh, kerjakan hal lain yang masih berhubungan dengan hobi. Kebetulan hobi saya fotografi, jadi ketika jenuh motret, saya buka galeri foto online seperti 1x, 500px dan lainnya. Atau kunjungi pameran foto, atau edit ulang foto lama.

Bagi saya, mengedit ulang foto ini menjadi salah satu kegiatan favorit karena bisa dilakukan dengan mudah dan nyaris di mana saja. Misalnya sambil ngopi di sebuah coffee shop atau sambil duduk di pinggir pantai. Eh kalau lagi di pantai, mending main pasir sih, hehehe.

Sekarang ini nyaris semua smartphone bisa dipakai untuk mengedit foto. Aplikasinya sudah banyak tersedia di berbagai platform. Penggunaannya pun relatif mudah. Lalu apa gunanya mengedit foto lama? Soal ini justru saya pelajari dari Rini Nurul, seorang kawan yang berprofesi sebagai penerjemah-editor-korektor dan mbuh apalagi. Pokoknya profesi dia banyak berhubungan dengan dunia penulisan, bukan fotografi. Suatu hari saya pernah baca artikel di blognya, bahwa mengedit ulang tulisan lama itu sama asyiknya seperti menata ulang perabot rumah. Jadi ya saya coba praktekan saja di hobi fotografi saya. Toh antara menulis dan fotografi itu mirip, hanya berbeda medianya saja.

Setelah sekali mencoba, rasanya memang mengasyikkan. Selain ada rasa puas, ternyata kegiatan ini bisa melatih saya untuk belajar melihat sebuah masalah dalam hidup sehari-hari dari berbagai sudut pandang. Cobain deh. Untuk hal yang satu ini saya agak sulit menerangkan dengan tulisan, lebih enak dicoba saja langsung. Kalau soal fasilitas, gak usah khawatir, saya mengedit foto di bawah ini hanya menggunakan aplikasi After Focus dan PicsArt yang saya unduh dari Play Store. Ponsel saya juga bukan dari jenis yang mahal kok.

Pantai Bengkulu

Setelah selesai mengedit, ada semacam perasaan puas karena ternyata saya bisa mendapat kesan yang berbeda dari foto yang sama. Bahkan ketika melakukan editing yang sangat minim seperti foto jalanan di Canberra ini, tetap ada perasaan yang susah saya tuliskan.

Canberra Jadi saya boleh tho kalau ikutan bilang bahwa bahagia itu sederhana? Cuma dari ngelakuin hal seperti ini saja sudah bisa menghilangkan kejenuhan saat bekerja. Ya itulah salah satu enaknya kalau bekerja sesuai hobi. Gak usah mikirin yang gak enaknya deh, gak berguna juga kok. Selalu belajar berpikir positif aja, yuk!

 

Senangnya memberi kursus fotografi murah di Jakarta

Sejak saya membuka kursus fotografi murah di Jakarta beberapa bulan yang lalu, sudah ada beberapa orang yang mendaftar dan belajar. Bahkan sekarang saya sudah tidak lagi menerima murid untuk program kursus yang 3 kali pertemuan karena semakin terbatasnya waktu. Sekarang saya hanya membuka program kursus kilat fotografi pada saat akhir pekan. Materi kursus masih tetap basic photography yang berisi tentang pengenalan cahaya, aperture, speed dan ISO. Hanya programnya saja yang berbeda.

Program yang ini bentuknya kursus privat, artinya, saya hanya menerima 1 sampai 3 orang murid dalam 1 sesi kursus. Kursusnya 1 kali pertemuan. Waktu dan lokasinya bisa diatur sesuai kesepakatan. Harganya? Masih tetap murah, hanya 750.000 rupiah. Harga inipun baru berlaku nanti pada bulan November 2014. Sekarang ini masih berlaku harga promo. Kalau berminat, hubungi saja 0813 80128353 (WA & voice call only, no sms).

Kenapa saya membuat kursus fotografi murah? Niatnya sekedar ingin berbagi ilmu yang saya dapat dari kawan-kawan fotografer yang sudah memberi ilmunya kepada saya, dan juga mempraktekan apa yang saya dapat ketika bersekolah di Nikon School Indonesia dan Darwis Triadi School of Photography. Apalagi ketika selesai sekolah di tempat babeh Darwis, beliau berpesan kepada semua murid untuk terus aktif di bidang fotografi. Jadi, kursus yang saya adakan ini sebagai salah satu bentuk partisipasi saya di bidang fotografi yang sudah saya jadikan hobby dan pekerjaan sejak tahun 2008.

Lalu kenapa saya membuat kursus fotografi ini begitu murah? Kursus ini murah karena tidak ada praktek foto model seperti di NSI atau DTSOP. Lalu apa untungnya mengikuti kursus ini? Yang pasti akan bisa langsung mempraktekan ilmu basic fotografi sekaligus memahami fungsi menu yang ada di kamera.

Selain itu, hampir semua yang pernah mengikuti kursus ini sampai sekarang masih sering bertanya tentang fotografi. Salah satunya adalah Franky Xu ini, sampai sekarang kami masih sering ngobrol membahas fotografi. Jadi sebetulnya kursusnya tidak hanya 1x pertemuan. Banyak kan untungnya?

Kursus fotografi murah di Jakarta

Foto di atas adalah saat saya (kaos oranye) dan Franky (tengah, berkaca mata) praktek di Kota Tua. Kebetulan saat itu ada Denny, kawan saya, yang ikut bergabung hunting di sana.

Saya tetap menyarankan bagi pengunjung blog ini yang berminat belajar fotografi untuk mencari info kursus lainnya, karena di Jakarta memang sangat banyak yang memberikan jasa kursus foto. Saya hanya memberikan alternatif agar pilihan kursus di Jakarta semakin beragam pilihannya. Syukur alhamdulillah kalau apa yang saya kerjakan ini bisa ikut membuat dunia fotografi semakin berkembang, kalaupun tidak, saya sudah senang bisa membagikan ilmu yang saya punya kepada orang lain dan mendapat kawan baru. Salam fotografi.

Belajar Fotografi Singkat dan Murah di Jakarta

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Update:

Artikel terbaru tentang kursus bisa dibaca di Senangnya Memberi Kursus Fotografi Murah Di Jakarta, klik aja 🙂

Awal kenal fotografi sebetulnya sudah lama, sejak kecil, seperti kebanyakan keluarga lainnya, saya sudah akrab dengan yang namanya album foto keluarga. Ada perasaan senang ketika melihat foto-foto lama. Entah senang karena bisa menggugah kenangan lama di suatu kota yang pernah kami tinggali, atau sekedar senang bisa mencela keculunan tampang kakak-kakak saya, hehehe.

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Tanpa saya sadari, sebetulnya kecintaan saya dengan fotografi sudah dimulai dari album foto itu. Anak bungsu mana sih yang gak suka kalau punya bahan untuk ngejek kakaknya? Foto itu barang bukti yang gak bisa disanggah lho. Otentik.

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Tapi benih cinta (((BENIH CINTA))) terhadap fotografi baru benar-benar tumbuh ketika ikut trip ke Pulau Pramuka bareng Nyanyu Picnicholic sekitar tahun 2007 atau 2008. Di trip itu saya kenal dengan Ime dan Ace yang nenteng kamera DSLR. Mulai deh saya hujani mereka dengan banyak pertanyaan seputar kamera dan foto. Gak berapa lama setelah pulang dari Pulau Pramuka,  saya beli DSLR dan mulai menyiksa kamera itu dengan ratusan jepretan yang asal jepret. Bukan cuma kamera aja sih, tentunya, semua kawan yang saya anggap paham fotografi juga saya siksa dengan hujaman ribuan pertanyaan, hihihi. Maaf ya gaess…

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Banyak mencoba dan bertanya memang harus dilakuin kalau mau menguasai suatu bidang. Gak cuma soal foto, pacaran pun begitu. Jadi kalau mau pintar memotret, pacaranlah sebanyak-banyaknya. Eh, gak gitu juga sih.

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Lalu apakah cukup dengan bertanya ke teman dan banyak mencoba? Buat saya, gak cukup. Karena nyatanya saya tetap mengalami salah beli lensa dan bahkan salah jual lensa, semata-mata karena kurang informasi. Nah, demi mendapat banyak info ini akhirnya  saya memutuskan untuk ikut sekolah fotografi dan berbagai macam workshop. Pertama kali merasakan sekolah foto ya di Nikon School Indonesia (NSI). Saya sebetulnya pengguna Canon, tapi itulah asyiknya fotografi, kita bisa belajar dengan siapapun tanpa peduli alat apa yang digunakan. Oh iya, saya bisa sekolah di NSI ini juga karena kebaikan seorang teman yang sayangnya menolak untuk disebut namanya. Lalu saya juga belajar di Darwis Triadi School of Photography.

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Belajar di kedua tempat itu memberikan pengalaman yang berbeda. Saat belajar di NSI, salah satu pengajar bilang bahwa fotografi sebetulnya adalah bahasa gambar. Maka, sebuah foto bisa dianggap sebagai sebuah media untuk menyampaikan pesan. Ketika di DTSOP, kurang lebih si Babeh (Darwis), bilang bahwa belajar fotografi itu gak melulu mengejar soal teknis tapi juga harus humanis. Sejak itu, pandangan saya tentang dunia fotografi agak berubah dan melakukan pemotretan dengan pendekatan yang berbeda.

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Sekarang, setelah saya merasa punya cukup bekal pengetahuan tentang fotografi, saya membuat kursus fotografi untuk pemula. Niatnya sih untuk berbagi ilmu dan pengalaman ke banyak orang supaya yang lain tidak perlu merasakan kesalahan yang sudah pernah saya lakukan. Makanya kursus ini saya bikin sefleksibel mungkin, artinya, waktu dan lokasi belajarnya bisa di mana saja sesuai kesepakatan bersama. Biaya kursusnya pun murah.

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Jadi, bagi yang tertarik belajar basic fotografi sambil ngopi-ngopi santai atau duduk di taman, hubungi saya aja ya. Infonya ada di bawah nih

kursus-fotografi