Yakin Ingat Ibunya?

Kalau suka selingkuh, ingat ibu?

Kalau suka mark up anggaran, ingat ibu?

Kalau suka terima suap, ingat ibu?

Kalau suka memutar balik omongan orang lain, ingat ibu?

Kalau suka bergunjing, ingat ibu?

Kalau suka nginex, pakaw dan mabuk-mabuk, ingat ibu?

Ingat, untuk yang masih punya ibu, di manapun kita dan sedang berbuat apapun kita, ada seorang Ibu yang mungkin sedang di rumah mendoakan keselamatan anak-anaknya. Ibu adalah wanita pejuang. Ia berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan kita dan terus berjuang demi anak-anaknya sepanjang usia beliau. Masih tega melupakan ibu dalam aktivitas keseharian kita?

Fotografi Itu Menyebalkan.

Kalau yang biasa hidup teratur dan tertata, pasti sebel waktu pertama kali doyan fotografi. Minimal jadi repot sendiri karena hobi barunya. Perhatiin deh, yang biasanya duduk anteng dan cuek sama barang di sekelilingnya mendadak jadi repot kepingin motret dan berusaha mendapatkan foto yang menarik dari barang/obyek itu. Entah itu recehan koin, gulungan benang, atau juga buku!

Atau orang yang sedang menulis.

Continue reading

Fotografi Itu Bahasa.

Waktu pertama kali belajar fotografi, saya dikasih tau kalau foto itu sebetulnya bahasa juga. Tepatnya bahasa gambar. Kalau mau ditarik ke zaman sebelum ada tulisan, bahasa ini sudah dipakai untuk menceritakan aktivitas manusia pada masa itu. Pernah tho ngeliat film-film dokumenter tentang manusia gua? Pasti suka ada gambar di dinding gua yang menceritakan adegan perburuan atau ritual mereka lainnya.

Nah, foto juga gitu. Hasil motret itu diusahakan harus bisa menyampaikan pesan ke orang lain sama dengan yang kita tangkap saat menekan shutter. Ini gak cuma untuk foto jurnalistik lho, tapi hampir di semua genre fotografi. Makanya sebelum memotret, kita harus tau apa tujuannya. Motret model misalnya, apa yang kita mau sampaikan ke orang melalui foto ini? Apa kita mau bilang bahwa model ini senyumnya maut? Atau kerling matanya bisa bikin orang gemeter? Atau mau menampilkan keunggulan baju yang dipakai si model? Temuin dulu maunya apa, baru kemudian kamu pikirin soal teknisnya. Begitu kata suhu-suhu foto yang ngajarin saya waktu itu.

Continue reading

Ikut Adu Poto Byar|Pet, Yuk!

Saya sebetulnya nggak terlalu suka ikut lomba apapun. Bukan karena malas, tapi memang karena gak begitu suka tampil dan memamerkan sesuatu. Kalau pun pamer hasil foto, paling sebatas di jejaring sosial atau blog. Ya memang sifatnya begitu, dalam pekerjaan juga saya lebih suka bekerja “di belakang layar”. Di keluarga pun saya lebih nyaman mendukung yang lain untuk mengejar karir, tapi ini ternyata membawa dampak buruk buat saya, hihihi.. Eh sudahlah, jangan sampai jadi curhat :mrgreen:

Nah, kali ini saya berniat ikut lomba. Selain mengambil momentum ‘move on’, kebetulan juga ada ajang lomba Adu Poto Byar|Pet 1433H (2011 M) yang dibuat oleh teman-teman blogger BHI. Nanti saya share link tentang lomba ini di bagian akhir artikel. Sementara itu, baca terus tulisan saya ini ya. Awas kalau nggak! *ngacungin sapu lidi* :P

Continue reading

Java War! Opera Diponegoro.

Iya sih, sebetulnya nggak guna juga saya tulis tentang pagelaran ini di sini. Lha wong kalau pada mau browsing, bisa langsung nemu ulasan yang lebih bermutu. Atau buka aja laman Opera Diponegoro, itu web resminya. Tapi saya tetap mau nulis Opera Diponegoro ini. Itung-itung untuk membalas jasa yang sudah mengundang saya menonton gratis previewnya.

Begitu masuk ke ruang teater, saya sudah kagum dengan layar besar berukuran 14 x 7m yang ternyata merupakan reproduksi dari lukisan Raden Saleh (1857). Saya, dengan noraknya, berpikir bahwa nanti layar ini bakal terangkat saat pagelaran dimulai. Ternyata salah. Layar itu tetap mengangkangi panggung saat para pemain mulai beraksi di belakangnya. Sementara Iwan Fals, yang berlaku sebagai dalang, “nembang” dengan gitarnya di depan layar itu. Continue reading

Sang Penari.

Rezeki weekend itu memang bisa dalam bentuk apapun. Kadang berupa tawaran job, kadang berwujud gule sapi dan sate kambing, atau bisa juga ajakan nonton premiere sebuah film. Seperti weekend kemarin, saya diajak menonton premiere film Sang Penari.

Ya pastinya nggak nolak dong ya. Semua yang gratisan pasti saya comot :D

Continue reading

Lebaran Bumblebee

Note: Kayaknya sih saya sudah pernah posting ini saat menjelang lebaran. Tapi entah kenapa, ternyata masuk kategori private sehingga nggak pernah muncul di laman blog ini. Sekarang saya edit sedikit biar lebih pas time frame-nya. Tapi kalau ternyata ini repost, ya maafff. Ribet ternyata ngeblog dari layar kecil :D

Kebetulan saya terlahir sebagai muslim. Kok kebetulan? Lha iya, kalau orangtua saya beragama Budha, besar kemungkinan saya sekarang buddhist. Tapi kalau soal saya ‘terlahir’, itu mah bukan soal ‘kebetulan’. Iya lah, wong dulu ayah dan ibu saya memang sengaja berbuat kok.

Eniwei, karena saya muslim maka saya menikmati lebaran. Perkara merayakan atau nggak, itu relatif, tapi kalau soal menikmati, itu pasti.

Kebetulan sebelum lebaran saya juga baru ngeliat cuplikan film Transformers yang ada scene Bumblebee. Bagi saya, Bumblebee ini sangat menarik. Dia itu produk dari Chevrolet bertipe Camaro. Dulu, pada tahun 1960-an, Camaro ini diproduksi untuk menyaingi Ford Mustang. Hasilnya? Gagal total. Sekarang kayaknya Chevy berusaha menaikkan lagi pamornya melalui film robot pecicilan itu. Apakah berhasil atau nggak usaha mereka menaikkan pamor, saya nggak gitu ngerti. *googling aja :D

Yang menarik buat saya adalah, pihak Chevy membuat Camaro yang sekarang ini dengan bantuan Australia -Ini info yang saya dapat dari tv program Top Gear-. Hebat ya? Kalau dibandingkan dengan America, Australia itu nggak ada apa-apanya dalam hal produksi muscle car. Terus kenapa mereka ngegandeng Australia? Ya nggak tau, coba googling aja lagi :mrgreen: Tapi intinya adalah, perusahaan sebesar itu perlu mengajak pihak lain -yang secara sejarah sebetulnya kalah dibanding mereka- untuk membuat mobil yang sudah lama menjadi icon perusahaan itu.

Nah hubungannya sama lebaran, ini sih bisa-bisanya saya aja ngehubungin, saya jadi ngerasa perlu mencontoh dari sejarah Camaro ini. Memanfaatkan momen lebaran yang lalu, yang kata orang adalah sebuah momen untuk memulai hidup dengan lebih baik, saya jadi semakin berusaha membuka mata untuk hal-hal yang selama ini saya anggap “kecil”. Tujuannya ya untuk memperbaiki kualitas hidup saya. Bukan untuk dipamerkan lho, tapi seperti mobil, semakin baik mutunya pasti semakin banyak manfaatnya. Sebagai manusia, pastinya saya juga harus menjadi baik agar bisa memberikan manfaad (pakai ‘d’) untuk sekeliling saya. Maka dari itu saya harus semakin tanggap dan mau belajar dari apapun dan siapapun. Entah itu yang lebih muda, lebih bandel bahkan yang lebih berlemak sekalipun. -Hey..berat gue jadi 96 kg pas lebaran kemaren- :|

Ok, kayaknya postingan ini memang lebay dan gak jelas juntrungannya…tapi mumpung posting di blog sendiri dan saya pun sedang ribet, jadi bebas dong ya mau posting apa. Btw, kalau postingan ini berasa semrawut ya maklumin aja. Susah ternyata ngeblog pake touchscreen 4″ sambil jalan-jalan. Cobain deh :|

Posted from WordPress for Android