Tadinya saya mau melanjutkan tulisan tentang ASEAN Blogger, tapi tiba-tiba teringat film Habibie & Ainun. Kemudian jadi mikir dan ingin ngecuprus tentang Indonesia. Sosok Pak Habibie jelas sangat penting di negara ini, tapi menurut saya, beliau berada di masa yang tidak tepat. Sekarang saja, di tahun 2013 ini, Indonesia masih kerepotan mengurusi e-KTP. Kebayang bagaimana bobroknya manajemen negara ini saat Pak Habibie, melalui IPTN (sekarang PT. DI), menghasilkan pesawat CN 235 dan kemudian N 250.
ASEAN Blogger, Membuka Mata. Semoga.
Saya senang sekali waktu ditawari Kak Injul untuk ikut ke acara ASEAN Blogger Festival di Solo. Membayangkan bakal bertemu kawan baru, baik dari dalam dan luar negeri, pasti seru dan cihuy banget. Untuk orang seperti saya, yang susah ngobrol dengan orang baru, acara seperti itu memang sangat menantang. Iya, saya memang lancar kalau menulis, tapi untuk berbicara dengan kawan baru (bahkan teman lama sekalipun) saya sangat kesulitan. Makanya si De, seorang kawan dari Blogfam, pernah bilang bahwa jari saya lebih binal dibanding mulut. Saya lupa ucapannya seperti apa, tapi kira-kira seperti itu maksudnya.
Bertemu Kamu
Bertemu lagi denganmu, menjadi momen yang gempita di awal tahun. Awal berjumpa, sekitar 5 tahun yang lalu, belum ada cerita kita saat itu. Kamu masih memiliki kisahmu, aku pun masih menjalani lakonku.
Lalu kita bertemu lagi saat masing-masing berdiri bebas. Diawali dari hobi yang sama, dilanjutkan dengan percakapan dan rangkaian kejadian yang tidak istimewa, lalu berubah menjadi pertemuan dengan hati. Tanpa kita sadari.
Mungkin di lautan pasir Bromo itu cerita ini dimulai. Saat diterpa angin dingin, mulutku terdiam. Bukan diam karena membeku, tapi karena memberi kesempatan pada hati melantunkan doa. Doa agar aku tidak lagi salah melangkah. Bukan melangkah di pasir Bromo, tapi melangkah mengejar mimpi. Mimpi yang saat itu ada di hadapanku, di tengah lautan pasir, iya mimpi itu adalah kamu.
Aku bersyukur kini kamu telah setuju. Setuju membuat mimpiku menjadi rangkaian cerita nyata yang akan kita cipta bersama.
Kisah ini tidak akan menjadi cerita pendek, kita juga belum tahu akan mengakhiri lelaku ini seperti apa. Tapi niat dan tujuan kita sudah sama. Rencana pun mulai kita susun berdua. Semoga doa yang aku lontarkan di Bromo itu sampai kepada Sang Pemilik Hidup, dan Dia memberi jawaban yang terbaik untuk kita. Apapun itu.
Terserah, Pokoknya Berfungsi
Masih cerita dari perjalanan ke Bromo bulan Januari kemarin, dan masih juga cerita tentang foto. Walau saat itu kondisi Bromo berkabut, pantang rasanya kalau gak berhasil membawa 1 atau 2 foto. Seperti biasa, kalau jalan-jalan saya pasti nenteng kamera serius. Ke Bromo pun saya bawa, tapi akhirnya sama sekali nggak keluar dari tas karena kondisi Bromo yang berkabut. Sebetulnya bukan karena kabutnya, tapi memang mood yang mendadak berubah. Jadi alih-alih mengeluarkan 1D mark II, saya justru lebih tertarik mengeluarkan blackberry dari kantong dan menggunakan kameranya untuk memotret. Continue reading
Fotografi Dasar Untuk Cari Pacar
Setelah menjadi single, saya mulai belajar ilmu fotografi. Sebelumnya saya memang cuma hobbyist. Tapi kemudian menjadi profesi karena terpaksa. Dan saya suka. Apalagi kemudian saya sadar kalau ilmu fotografi bisa diterapkan untuk mendapatkan pacar. Mari kita urai satu persatu ya. Eh iya, bacanya jangan serius dong, mblo. Santai aja. Tulisannya bakal panjang nih, bacanya sambil senderan gih. Nafsu bener mau dapat pacar ^^
Sambelisme!
Ternyata, sambal itu bukan hanya enak dicocol sebagai teman lauk pauk. Di balik merahnya sambal ada cerita menarik tentang kehidupan. Suatu sore di Surabaya, saya mendapatkan kisah sambal yang bagus untuk diceritakan ulang.
Sambal, atau lebih enak kalau dilafalkan dengan ‘sambel’, punya makna yang bagus jika diulas. Percakapan sore itu dimulai ketika lawan bicara saya bilang, kamu bisa hidup nyaman kalau sudah bisa bikin sambel yang enak dan ngerti kenapa sambel itu bisa enak. Kemudian obrolan menjadi serius tapi tetap dalam suasana yang santai. Saya mau coba tuliskan obrolan yang panjang itu di sini. Semoga enak dibaca, seenak pedasnya sambel mangga…slurrps.
Sevelisme!
Sewaktu berlibur pulang ke Jakarta, saya senang melihat perubahan fisik kota itu. Kurang lebih 1 tahun saya meninggalkan Jakarta, cukup banyak berubah wujud ibukota Indonesia ini. Saya sempat merasakan jalan layang yang baru diresmikan Pak Jokowi, dari sana saya meluncur ke ruas Mampang – Warung Buncit, banyak juga perubahannya. Yang sangat mencolok tentu bertambahnya gerai Sevel. Nama resminya Seven Eleven, atau apalah, cuma biar gampang nulisnya ya saya sebut Sevel aja. Toh memang gitu kan cara sebagian besar rakyat DKI menyebutkan nama gerai fenomenal yang satu itu?
Banyak Cerita
Sudah kembali ke dunia nyata Bengkulu setelah sebulan lebih berlibur. Banyak cerita, ada cerita Bromo, cerita sambal, cerita sevel. Pokoknya ada sekian bahan ngecuprus yang bisa ditulis nanti.
Sekarang menarik nafas dulu, menyiapkan badan dan mental. Menikmati malam pertama di kota pesisir lagi.
Rencana Ngecuprus Soal Fotografi
Iya, saya berencana ngecuprus soal fotografi di twitter dengan hashtag #Ngefot. Rencana lho ya, bukan niat. Buat saya, rencana itu levelnya 1 tingkat di bawah niat. Dan saya memang lebih nyaman nyebutnya ‘Ngecuprus’. Bukan kultwit, apalagi workshop online. Jauh, jauuuuuh sekali dari itu. Karena yang akan dicuprusin (rencananya) bukan melulu soal teknik fotografi. Pemahaman saya tentang teknik fotografi masih jauh dari para fotografer senior, bahkan kalau dibandingkan dengan kawan-kawan di studio pun skil saya masih di bawah mereka. Makanya saya pakai hashtag #Ngefot, kependekan dari Ngecuprus (soal) Fotografi.